Ruh itu Zat Allâḥ/Nūr Ilahi (Al-Insān:1, Fuṣṣilāt:54, Nūr:35) yang bersifat Hayyun. Oleh sebab disematkannya ruh pada jasadlah (Hijr:29) sehingga jasad yang bersifat mati ini menjadi hidup. Ruh yang bersifat Hayyun inilah ketika cahayanya sampai ke otak, aktiflah otak sehingga organ ini bisa memulai aktivitas yang disebut berpikir. Hal keadaan otak bekerja normal itulah dikatakan seseorang itu berakal.
Skema sederhananya:
Ruh → otak berfungsi → berakal → berpikir → ber-iqra.
Berpikir masalah keseharian biasa, itu bisa juga disebut iqra. Akan tetapi, dalam hal terkait keimanan--baik bersifat ukhrawi (akidah) maupun duniawi (syariah)--yang lebih ditekankan ialah "Iqra bismirabbikallażī khalaq".
Akal berfungsi membedakan mana haq dan mana batil. Oleh sebab itu orang yang berakal dikenai hukum (pahala dan dosa). Lain halnya dengan orang gila yang tidak dikenai hukum. Ya karena gila.
Yang lebih menyedihkan daripada itu ialah keadaan orang yang iqranya lemah terhadap petunjuk wahyu. Ada kalangan yang cenderung berpikir berlandaskan akal²an prasangka dan kebodohan nafsunya sehingga mereka jadi pengamal ajaran menyimpang yang tertolak ushul agama.
Iqra itu berpikir dengan landasan wahyu.
Itu baru dinamakan
menjalankan akal.
Berpikir tanpa petunjuk wahyu, bisa jatuh pada kedudukan sesat yang nyata.
Akal itu cahaya ruh.
Maka orang berakal akan berjihad-bersyariat untuk kembali ke sumber cahaya akal itu, yaitu ruh. Inilah jalan innalillāhi wa inna ilaihi rāji'ūn.
"Ruh itu urusan Tuhan." (Al-Isra:85)
Jadi yang berurusan dengan Tuhan itu hanya ruh. Ruh ini Nūr Ilahi.
Nah,
ruh kamu itu ada padamu atau ada di rumah tetangga?
Hanya cahaya matahari yang sampai dan esa dengan matahari.
Hanya Cahaya Tuhan yang sampai ke Tuhan dan esa dengan Tuhan.
Nah, ruh kamu alias Cahaya Tuhan itu ada padamu atau ada di rumah tetangga?
Inilah makna hakiki 'araftu Rabbi bi Rabbi. Inilah makna kenal diri, kenal Tuhan.
[Baca juga: Kenal diri, kenal Tuhan.]
وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَ ۙ
Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allâḥ)
bagi orang-orang yang
yakin,
فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ؕ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah
kamu tidak memperhatikan?
[Q.S.
Aż-Żariyāt:20-21]
Nah, ruh kamu itu ada padamu atau ada di rumah tetangga?
Ingat:
Jangan sekali-kali meremehkan aktivitas manusia berpikir. Kufur nikmat kamu meskipun hapal Quran dan hadis. Bahlul. Karena justeru dengan berpikirlah batas haq dan batil itu bisa terpandang lebih nyata. [Baca juga: bit.ly/Dalil-Aqli-Penumpas-Ajaran-Menyimpang]
*Sedangkan wahyu pertama, perintah pertama, syariat pertama itu berbunyi: IQRA!
-------
Kredit foto:
Rahul dari Pexels, dengan pengeditan seperlunya dari moderator
Dimuat ulang dengan penyesuaian seperlunya dari versi perdana yang dimuat pada 28 Apr 2016 12.22

By
Published: 2026-07-12T11:24:00+07:00
IQRA, AKAL, DAN PIKIR

|