Yang disebut kebenaran itu: mau kebenaran agama maupun kebenaran untuk perkara duniawi, tentu tetap wajib ada kelengkapan di satu sumber yang kita ikuti.
Kelengkapan yang dimaksud itu:
ada teori, ada praktik, ada hasil
ada ilmu, ada amal, ada mu`anayah.
di ranah agama:
kalau ada tuan guru, syaikh, kyai, ustaz, gus, memukau akal dan rasamu hanya di teori tanpa praktik; hanya bicara ilmu tinggi-tinggi tanpa ada petunjuk cara mengamalkannya dalam syariat, artinya dia TUAN GURU TONG KOSONG NYARING BUNYINYA.
Kalau Anda lanjutkan tetap ikut di situ...
hasilnya ya paling jauh Anda akan jadi kloningan tuan guru itu, yaitu jadi another tong kosong nyaring bunyinya.
Kalau Anda pakai teknik tambal-sulam:
ambil teori dari si A, cara praktiknya dari si B.
Itu Anda menjadi makhluk berilmu hibrid alias pengamal gado-gado. Jalan Anda kalau seperti itu bukan menuju pencerahan, melainkan menuju kemabukan lalu dekat ke penyimpangan dan kesesatan.
Ibarat Anda ikuti teori dari Microsoft, tapi penerapannya Anda ikuti prinsip-prinsip dari Linux (hanya karena keduanya sama-sama operating system komputer), tentu hasilnya jauh panggang dari api. Sesederhana itu duduk perkaranya.
Memang ini bukan postingan yang nyaman dibaca, tapi ini memang mesti ditegaskan seperti ini sebagai pertanggungjawaban kami yang membuat quote. Harap maklum.
.png)
By
Published: 2026-07-12T09:16:00+07:00
JANGAN SALAH KAPRAH MEMAHAMI QUOTE² TAUHID HAKIKI
.png)
|