Dalam tauhid Tuhan-hamba itu Esa:
Jauh tak-berjarak, dekat tak-bersentuh, tiada antaranya;
tapi Tuhan tetap Tuhan, hamba tetap hamba.
[Al-Baqarah: 115, Fuṣṣilat: 54, Qaf: 16, dsb.]⠀
Tidak pernah ada hal-keadaan Tuhan jadi hamba atau hamba bisa sama dengan
Tuhan. Maka konsep hulūl-ittihad (penyatuan-peleburan hamba pada Tuhan) itu
konsep sesat-tersesat-menyesatkan. Maka dalam tauhid yang hakiki
tidak ada prinsip masuk-memasuk dan tidak ada prinsip raib-meraib.
- Maksud "masuk-memasuk" mengacu ke peleburan dan/atau penyatuan hamba dengan
Tuhan tadi.
-
Maksud "raib-meraib": lenyap kita, ada Tuhan; lenyap Tuhan, ada kita. ←
apa-apaan ini?? Dikiranya praktik tauhid-makrifat itu macam sulap?
Yang ada dalam tauhid hakiki, Allâḥﷻ ADA, kita ada.
Bedanya: Allâḥﷻ ADA sendiri-Nya, kita ada di-ada-kan Allâḥﷻ.
Jadi, tidak ada prinsip
memfana-fanakan/menafi-nafikan/meniada-tiadakan/mengosong-kosongkan diri di
dalam tauhid yang hakiki. Hakiki artinya 'yang sebenar-benarnya'.
⠀
"Rumah saja dibiarkan kosong lama, banyak yang masuk: dari maling sampai
jin-setan. Begitu juga dengan dirimu kalau kau kosong-kosongkan. Asah akal
dengan pemikiran, bukan dengan batu canai!"⠀
--Al-Murabbi-ruh K.H. Undang Sirad --
⠀
Yang sudah Allâḥﷻ tetapkan adanya (meski sekadar wujud majazi/bayangan,
seperti kita dan alam semesta), apa hak kita meniada-tiadakannya?
⠀
Logika: meniada-tiadakan bayangan = meniadakan sumber bayangan. [lihat gambar]
Meniada-tiadakan manusia sebagai "bayangan Tuhan", sama saja dengan
meniadakan Tuhan secara tidak langsung! Think! Iqra-lah!! Itu fenomena salah kaprah dalam menempatkan prinsip hakikat tauhid tentang
Wajibal Wujud.
"Tiada yang Wujud selain Allâḥﷻ" <~~ ini perkataan di
wilayah hakikat,
Sedangkan mereka menempatkannya di wilayah syariat. Jatuhnya jadi ke diri:
berusaha menafikan nafs dan jasadnya sebagai makhluk demi "menegakkan
hakikat Wajibal Wujud" tadi. Bawaannya ya mengosong-kosongkan pikiran dan
menafikan kepribadian dirinya sebagai makhluk. Ujung-ujungnya menempatkan
Tuhan ke jasadnya sendiri. Tentu malah jadi syirik dan zindiq.
Memfana-fanakan diri itu prinsip jalan moksa dari luar Islam. Itu sebabnya
kalau mati jasadnya dibakar jadi abu dengan harapan esa dengan Tuhan.
Padahal abu tetap abu, tetap terpisah dari Kosong, tidak bisa dikatakan
tiada, apalagi dikatakan esa dengan Tuhan.
⠀⠀
موتوا قبل أن تموتوا
Mūtu qabla anta mūtu,
'matikan dirimu sebelum mati'. (hadis qudsy)
Mengamalkan hadis itu bukan dengan meniada-tiadakan diri.
Sudah jelas Allâḥﷻ berkehendak ruh-nafs-jasad kita nyata ada.
Yang sudah Allâḥﷻ tetapkan adanya (meski sekadar wujud majazi atau bayangan,
seperti kita dan alam semesta), apa hak kita meniada-tiadakannya?
Mau sampai pada Allâḥﷻ (billâḥi), mengapa justru menentang kehendak Allâḥﷻ
dengan meniada-tiadakan diri?
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2026-07-11T20:50:00+07:00
Jangan Memfana-fanakan Diri
5
411
reviews
Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki yang menjelaskan sinergi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat dari kalangan khawwasul khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab at-Tazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.