Jangan Memfana-fanakan Diri ~ Pusaka Madinah

burnzone

AD (728x60)

Jangan Memfana-fanakan Diri

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]

Performa dan tampilan terbaik laman ini pada peramban Microsoft Edge. Khusus pengguna perangkat mobile: Apabila ada artikel yang tampilannya terpotong, silakan baca dalam mode landscape. Apabila masih terpotong, artinya artikel tersebut hanya nyaman dibaca via laptop atau PC.
landscape mode.

Dalam tauhid Tuhan-hamba itu Esa:

Jauh tak-berjarak, dekat tak-bersentuh, tiada antaranya;
tapi Tuhan tetap Tuhan, hamba tetap hamba.
[Al-Baqarah: 115, Fuṣṣilat: 54, Qaf: 16, dsb.]⠀

Tidak pernah ada hal-keadaan Tuhan jadi hamba atau hamba bisa sama dengan Tuhan. Maka konsep hulūl-ittihad (penyatuan-peleburan hamba pada Tuhan) itu konsep sesat-tersesat-menyesatkan. Maka dalam tauhid yang hakiki tidak ada prinsip masuk-memasuk dan tidak ada prinsip raib-meraib.
  • Maksud "masuk-memasuk" mengacu ke peleburan dan/atau penyatuan hamba dengan Tuhan tadi.
  • Maksud "raib-meraib": lenyap kita, ada Tuhan; lenyap Tuhan, ada kita. ← apa-apaan ini?? Dikiranya praktik tauhid-makrifat itu macam sulap?
Yang ada dalam tauhid hakiki, Allâḥﷻ ADA, kita ada.
Bedanya: Allâḥﷻ ADA sendiri-Nya, kita ada di-ada-kan Allâḥﷻ.

Jadi, tidak ada prinsip memfana-fanakan/menafi-nafikan/meniada-tiadakan/mengosong-kosongkan diri di dalam tauhid yang hakiki. Hakiki artinya 'yang sebenar-benarnya'.
"Rumah saja dibiarkan kosong lama, banyak yang masuk: dari maling sampai jin-setan. Begitu juga dengan dirimu kalau kau kosong-kosongkan. Asah akal dengan pemikiran, bukan dengan batu canai!"⠀
--Al-Murabbi-ruh K.H. Undang Sirad --
Yang sudah Allâḥﷻ tetapkan adanya (meski sekadar wujud majazi/bayangan, seperti kita dan alam semesta), apa hak kita meniada-tiadakannya?
Logika: meniada-tiadakan bayangan = meniadakan sumber bayangan. [lihat gambar]
Meniada-tiadakan manusia sebagai "bayangan Tuhan", sama saja dengan meniadakan Tuhan secara tidak langsung! Think! Iqra-lah!! Itu fenomena salah kaprah dalam menempatkan prinsip hakikat tauhid tentang Wajibal Wujud. 

"Tiada yang Wujud selain Allâḥﷻ" <~~ ini perkataan di wilayah hakikat,

Sedangkan mereka menempatkannya di wilayah syariat. Jatuhnya jadi ke diri: berusaha menafikan nafs dan jasadnya sebagai makhluk demi "menegakkan hakikat Wajibal Wujud" tadi. Bawaannya ya mengosong-kosongkan pikiran dan menafikan kepribadian dirinya sebagai makhluk. Ujung-ujungnya menempatkan Tuhan ke jasadnya sendiri. Tentu malah jadi syirik dan zindiq.

Memfana-fanakan diri itu prinsip jalan moksa dari luar Islam. Itu sebabnya kalau mati jasadnya dibakar jadi abu dengan harapan esa dengan Tuhan. Padahal abu tetap abu, tetap terpisah dari Kosong, tidak bisa dikatakan tiada, apalagi dikatakan esa dengan Tuhan.
⠀⠀
موتوا قبل أن تموتوا
Mūtu qabla anta mūtu,
'matikan dirimu sebelum mati'. (hadis qudsy)

Mengamalkan hadis itu bukan dengan meniada-tiadakan diri.
Sudah jelas Allâḥﷻ berkehendak ruh-nafs-jasad kita nyata ada.

Yang sudah Allâḥﷻ tetapkan adanya (meski sekadar wujud majazi atau bayangan, seperti kita dan alam semesta), apa hak kita meniada-tiadakannya?

Mau sampai pada Allâḥﷻ (billâḥi), mengapa justru menentang kehendak Allâḥﷻ dengan meniada-tiadakan diri?

Jangan Memfana-fanakan Diri
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2026-07-11T20:50:00+07:00
Jangan Memfana-fanakan Diri
5 411 reviews
Buku ISuS

Buku Ilmu Sedikit untuk Segala²nya

Sudah terbit buku untuk memudahkan Ikhwan/Akhwat memahami kajian tauhid hakiki yang termuat di situs ini secara lebih tersusun dari anak tangga pemahaman Islam yang paling dasar. Ikhwan yang berminat memiliki buku ini dapat menghubungi penerbitnya langsung di www.midaslearning.co.id

  • Untuk mengetahui seluk-beluk buku lebih komprehensif, lengkap dengan uraian per bab dan video garis besar kajian buku, silakan kunjungi landing page rekanan resmi kami di: www.bukutauhidhakiki.com
  • Untuk memesan buku dari rekanan resmi yang terdekat dengan kota Ikhwan/Akhwat, silakan kunjungi tautan ini: "Kami di Kota Anda".
"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tags:
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki yang menjelaskan sinergi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat dari kalangan khawwasul khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab at-Tazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

 

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism