Tapi dulu saya sadari ini:
Sebelum berjumpa mursyid K.H. Undang Sirad, saya ini berangkat dari awam. Benar-benar awam. Modal keislaman saya cuma salat dan bisa ngaji secara biasa-biasa saja. Belum pernah duduk di pengajian mana pun, apalagi nyantri menahun di pesantren mana pun.
Tapi saya yakin tauhid hakiki inilah yang saya cari secara fitrah. Artinya, saya tidak pernah merasa mencari Tuhan, tapi ketika melek tauhid, secara naluriah saya tahu dan yakin, "Inilah yang kucari selama ini!"
Lalu saya menetapkan satu hal yang belum pernah saya lakukan selama hidup, yaitu saya ingin belajar tauhid dari ulama yang mengajarkan pencerahan-pencerahan yang meledakkan alam pikir saya yang jahiliyah ketika itu.
[Anda mungkin takkan menyangka kalau saya dulu terbius dengan paham humanisme-liberalis yang sekarang kita lihat ada pada orang-orang JIL dan Islam Nusantara. Nauzubillaahi min zalik. Kalau tidak diselamatkan Allâhﷻ dengan tauhid, bisa jadi saya tergolong cebong militan hari ini. Mit amit!]
Tapi, saya ini orangnya canggungan, terutama pada orang yang saya segani seperti Alm. Murysid K.H. Undang Sirad. Mustahil dan lancang rasanya jika saya sanggup memberondongkan berbagai pertanyaan pada beliau akan hal-hal yang semestinya bisa saya kaji sendiri dengan sabar.
Anda tahu, pertama kali saya ikuti pengajian di rumah Warnasari, saya seorang minder yang cuma bermodalkan pena, buku catatan, dan kuping untuk menyimak sambil menahan-tahan pegal duduk bersila lama-lama di lantai.
Bayangkan seorang awam langsung menyimak uraian tentang Nur Muhammad, Nur Ilahi, Kosong, Ruhul Qudus, la ta`yin, ta`yin awwal, nokta raib, martabat tujuh, dsb..... ya, saya banyak bengong-takpahamnya daripada pahamnya. Tapi dari dasar diri ini saya yakin, ini ajaran benar dan suatu hari saya akan paham.
Tahu-tahu Alm. K.H. Undang Sirad menyela dalam tausyiah beliau, "Kau catat-catat jak. Biar takpaham pun catat jak. Suatu hari Allâhﷻ yang pahamkan kamu." ⠀
Iya, saya paham. Saya juga pernah seperti Anda. Begitu tercerahkan dengan dasar-dasar pahaman tauhid hakiki, Anda jadi begitu amat bergairah menggali dan menggali pahaman agar lebih dan lebih paham lagi sebagai bekal kita berpraktik menuju Allâhﷻ (billāḥi ta`ala).Karena amat segan dan amat canggung pada beliau almarhum untuk memberondongkan seribu tanya, saya alihkan gairah itu dengan melahap setiap buku yang bertemakan tauhid, makrifat, atau ketuhanan. Dari situ saya paham maksud istilah-istilah ilmu tauhid-makrifat, sekaligus secara tidak langsung belajar studi perbandingan pahaman-pahaman makrifat yang berkembang di luar sana dengan yang diajarkan almarhum di pengajian Pusaka Madinah - Tauhid Hakiki ini.
Kalau boleh saran bahan bacaan, jangan lewatkan dua kitab ini:
- Kitab Faṭur Rabbani wal Faiḍur Raḥmāni dari Syaikh Abdulqadir al-Jailani (yang diindonesiakan dengan judul "Menjadi Kekasih Allâh").
- Kitab Al-Hikam dari Syaikh Ibnu Aṭailah as-Sakandary
Anda lebih beruntung daripada saya dahulu, sekarang desak-gairah untuk belajar itu bisa Anda lampiaskan dengan membaca dan mengulang-ulang baca isi tausiyah Alm. K.H. Undang Sirad di pusakamadinah.org . Anda boleh percaya, boleh tidak: setiap Anda baca-baca ulang, meski untuk judul artikel yang sama, Anda akan selalu merasa ada "pendapatan paham" yang baru dibandingkan dengan ketika Anda membaca artikel itu sebelumnya..
Terserah jika Anda pandang ini iklan terselubung, tapi saya tidak peduli dan tetap saya sarankan juga Anda miliki buku Ilmu Sedikit untuk Segala²nya: Dasar-Dasar Tauhid Hakiki.
Karena isi buku itu akan lebih mempermudah Anda memahami isi pusakamadinah.org atau rekaman tausyiah live Alm. K.H. Undang Sirad di channel Pusaka Madinah di Youtube.
Tapi ingatlah selalu urutan ini:
Ilmu tauhid itu untuk membersihkan iman kita dari syirik jali (nyata) dan syirik khafi (halus)
Sedangkan ilmu tauhid hakiki itu untuk membersihkan iman kita dari syirik khafi khafiyyun khafi (halus terlebih halus)
Makanya, mendalami tauhid tidak bisa pakai ingin-ingin..
- ingin cepat paham lah
- ingin dapat tajalli lah
- ingin bisa kasyaf lah
- ingin bisa seperti mursyid lah
- ingin ini, ingin itu..banyak sekali (macam OST Doraemon aja).
Atasi diri Anda dari desak-gairah ingin-ingin semacam itu.
Mengapa jangan pakai ingin-ingin?
"Karena setiap ingin adalah nafsu." -- K.H. Undang Sirad
Jadi, maklumi kalau si adam tidak bisa setiap saat melayani Anda sebab jasad si adam hanya satu. Tapi Anda jangan khawatir, Tidak ada senioritas dalam hal menerima karunia Allâhﷻ. Jangan minder hanya karena Anda lebih terlambat tahu soal tauhid hakiki daripada si adam ini.
Ingatlah, Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ itu nabi paling bungsu, tapi beliau jugalah yang menjadi penghulu para nabi.
Selama masih ada jatah hidup, insyaallah saya selalu bersedia diajak diskusi soal tauhid hakiki. Tapi maklumi kalau si adam tidak bisa setiap saat melayani Anda sebab jasad si adam hanya satu. Afwan dan wasalam.
-----
Pertama kali diterbitkan di laman Facebook Pusaka Madinah pada 15 Oktober 2018.
Untuk Anda yang berminat memiki buku Dasar-dasar Tauhid Hakiki yang kami terbitkan, silakan ke tautan bit.ly/Pesan-Buku-ISuS (Selama persediaan masih ada).

By
Published: 2026-07-11T20:40:00+07:00
Jangan Bertauhid Pakai Ingin

|