Di Mahasuci ~ Pusaka Madinah

burnzone

AD (728x60)

Di Mahasuci

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]

Performa dan tampilan terbaik laman ini pada peramban Microsoft Edge. Khusus pengguna perangkat mobile: Apabila ada artikel yang tampilannya terpotong, silakan baca dalam mode landscape. Apabila masih terpotong, artinya artikel tersebut hanya nyaman dibaca via laptop atau PC.
landscape mode.


Pada kesempatan terpisah di sosial media, saya beberapa kali ditanya oleh ikhwan yang berbeda,
"Lagi di mana sekarang, Kang?"
Saya jawab, "Di Mahasuci. Hehehe."


Jawaban semacam itu selayang pandang memang akan terkesan sombong, sok makrifat, main-main, nyelenɛh, dan sebagainya, tetapi alḥamdulillāh ikhwan yang bertanya sudah mafhum dan ia memfokuskan pertanyaannya lagi, "Hehehe, iya…. di Mahasucinya di wilayah Bandung atau Pontianak atau di mana, Kang?"

Jawaban semacam itu sepintas lalu memang akan terkesan sombong, sok makrifat, main-main, nyelenɛh, dan sebagainya, tetapi memang mayoritas ikhwan/akhwat yang ada di daftar pertemanan saya di facebook adalah mereka yang mengikuti kajian tauhid di situs kita ini, bahkan sejak alm. K.H. Undang Sirad masih bersama kita. Jadi jawaban saya (lagi di Mahasuci) itu dipahami maksudnya oleh ikhwan yang bertanya sehingga beliau kemudian memfokuskan pertanyaannya lagi.

Yang diterapkan di atas tadi ialah buah pengajaran dari alm. Mursyid K.H. Undang Sirad. Dahulu pernah beliau tiba-tiba menelepon dan bertanya,
"Salam`alaikum, lagi di mana, Dam?"
Saya jawab, "Alaikumsalam, di rumah, Guru."

Sudah begitu saja. Lalu beliau pun pamit dan menutup telepon. Tentu saya bingung waktu itu dan bertanya-tanya. Belakangan kemudian diketahui ternyata beliau menelepon serupa itu juga kepada beberapa ikhwan di pengajian dan beliau mendapati jawaban kurang-lebih sama dengan yang saya utarakan, yaitu menyebutkan lokasi di tempat berada ketika ditanya.

Belakangan kemudian baru kami semua muridnya menyadari, jawaban yang beliau harapkan ialah di Mahasuci. Ini kami ketahui setelah di kesempatan lain taklama kemudian beliau mengatakan para muridnya lalai semua. Hehehe...mohon maklumi kami, Guru.

Hal Keberadaan Kita Memang di Mahasuci

Supaya Anda tidak tersalah paham membaca/mendengar perkataan "kita saat ini-detik ini berada di Mahasuci", mari kita ingat kembali makna hakiki dari firman Allâhﷻ dalam Q.S. An-Nūr [24]:35 dan Q.S. Al-Fuṣṣilat [41]:54. Dari kedua ayat tersebut didapatlah keputusan bahwa seluruh ciptaan Allâhﷻ (seluruh makhluk-Nya: malaikat—jin—manusia; juga segala alam: alam malaikat, alam jin, alam manusia, alam barzakh dan akhirat, surga-neraka, Arsy, dll.) semua berada di dalam liputan Nūr Ilaḥi atau Cahaya Tuhan.

Yang disebut Cahaya Tuhan (Nūr Ilaḥi) tentu berbeda dengan cahaya makhuk, seperti cahaya lampu, sinar matahari, atau kilat petir. "Tidak ada yang seumpama dengan-Nya" (Q.S. Asy-Syura [42]:11).

Nah, Cahaya Tuhan itu bersifat Mahasuci.

Yang disebut "Mahasuci" tentu maksudnya bukan bersih dari kotoran, melainkan bersih dari sifat-sifat kemakhlukan, seperti berbentuk, berwarna, berbau, bersentuh (bisa disentuh), dan sebagainya. Jadi Cahaya Tuhan disebut Mahasuci karena Cahaya Tuhan yang meliputi kita itu
  • tidak berbentuk,
  • tidak berwarna, bukan transparan juga,
  • tidak berbau,
  • tidak bersentuh (tidak bisa disentuh)
  • tidak ada bagian kanan-kiri-atas-bawah-tengah-samping-depan-belakangnya,
  • tidak bertempat di penjuru arah mata angin utara-selatan-timur-barat, dst.
  • bukan berupa cahaya-cahaya. 
  • bukan panas juga bukan dingin,
  • bukan berupa gelap atau terang; alias Nūr Ilaḥi tidak bisa disebut terang atau gelap dalam pemahaman kita sehari-hari.

Artinya,

  • Nūr Ilaḥi tidak sama dengan segala sesuatu yang berbentuk; 
  • Nūr Ilaḥi tidak sama dengan segala sesuatu yang berwarna dan/atau transparan; 
  • Nūr Ilaḥi tidak sama dengan segala sesuatu yang berbau wangi atau busuk; 
  • Nūr Ilaḥi tidak sama dengan segala sesuatu yang ada bagian kanan-kiri-atas-bawah-tengah-samping-depan-belakangnya; 
  • Nūr Ilaḥi tidak sama dengan segala sesuatu yang bertempat di utara-selatan-barat-timur, dst.


Jadi, Cahaya Tuhan yang meliputi kita itu yang mana?
Itulah Kosong Maharuang yang ada di depan hidung dan meliputi diri Anda zahir-batin. Saat ini Anda melihat layar monitor komputer atau handphone, yang disebut Nur Ilahi itu ruang kosong antara mata Anda dan layar monitor.

Kosong Maharuang = Nūr Ilaḥi? Apa buktinya?
Silakan arahkan pandang dan rasai benda-benda sekeliling Anda, misalnya
  • Anda lihat dinding. Sama tidak bentuk dinding itu dengan ruang kosong yang meliputi Anda? Tidak sama.
  • Anda lihat baju yang Anda pakai. Sama tidak bentuk dan warna baju itu dengan ruang kosong yang meliputi Anda? Tidak sama.
  • Anda lihat plastik transparan. Sama tidak bentuk transparan itu dengan kosong yang meliputi Anda? Tidak sama.
  • Anda mencium aroma parfum. Sama tidak aroma parfum itu dengan ruang kosong tak-berbau yang meliputi Anda? Tidak sama.
  • Anda merasakan panas kalau bedada di dekat api, bukan karena ruang kosong yang panas. Begitu juga, Anda merasakan dingin ketika bertiup angin malam menerpa tubuh, bukan karena ruang kosong.
  • dst.

Lihat dan rasai segala benda di sekeliling Anda. Semua itu tidak ada yang sama dengan Kosong Maharuang. Inilah makna hakiki perkataan laysaka miṡliḥi syai`un, 'tidak ada seumpama-Nya' di Q.S. Asy-Syura [42]:11.

Jika Cahaya-Nya saja sudah tidak sama dengan segala sesuatu, laysaka miṡliḥi syai`un, tentu Sang Pemilik Cahaya terlebih laysaka miṡliḥi syai`un. Jika Cahaya-Nya saja sudah bersifat Mahasuci, tentu Sang Pemilik Cahaya terlebih Mahasuci. Pahami ini.


Sekarang Anda lihat dan rasai ruang kosong yang meliputi Anda,
  • bisakah ruang kosong itu Anda tentukan mana bagian kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah-samping-tengahnya? Tidak bisa.
  • bisakah ruang kosong itu Anda sebut ada di penjuru utara-selatan-timur-barat-dst.? Tidak bisa.
  • bisakan ruang kosong itu Anda sebut gelap atau terang? Tidak bisa. Kamar Anda terang karena nyala lampu, bukan karena ruang kosong; kamar Anda gelap karena mati lampu, bukan karena ruang kosong. 

Lihat dan rasai ruang kosong. Betapa ruang kosong yang ada di kamar Anda dengan yang di alam bebas sampai ke langit itu sama, tidak ada pemisahnya, dan tidak ada batasnya. Inilah makna hakiki perkataan bikulli sya`in muhīṭ, 'meliputi sekalian alam' di Q.S. Al-Fuṣṣilat [41]:54.

Jadi, makna hakiki perkataan Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi di Q.S. An-Nūr [24]:35 itu menunjukkan hal-keadaan sekosong-kosongnya, bukan seterang-terangnya atau sesilau-silaunya.

Ruang kosong atau Kosong Maharuang inilah juga yang diisyaratkan dalam Q.S. Al-Baqarah [2]:115 sebagai "ke mana pun kamu menghadap, di situ Wajah Allâh" dan diisyaratkan dalam Q.S. Al-Ḥadīd [57]:4 sebagai "di mana pun kamu berada, di situ Aku".

Pahaman di luar Islam juga sudah ada yang sampai ke Kosong ini. Bedanya, mereka menyatakan Kosong inilah Tuhan, padahal bukan. Bedanya, mereka mengamalkannya dengan mendiamkan jasad mematung (diam-berhala). Jadi tetap beda Islam dengan bukan Islam ya.


Jadi sudah jelas ya sekarang bahwa keber-ada-an kita semua ini sejak awal zaman sampai kapan pun senantiasa dalam liputan Cahaya Tuhan. Kalau senantiasa dalam liputan Cahaya Allâh, tentu juga artinya senantiasa beserta Allâhﷻ—karena Cahaya dengan Pemilik Cahaya itu wajib esa.



Jadi sudah jelas ya, kita dan Allâhﷻ itu senantiasa esa. Adapun yang membedakan kadar keesaan Tuhan-hamba ini pada diri setiap manusia ialah batas lalai dan sadar.

Itu sebabnya alm. K.H. Undang Sirad melatih muridnya di kesadaran ada di Mahasuci ini seperti di awal artikel tadi. Itu sebabnya saya pun mengikuti cara beliau dalam mengingatkan diri dan sesama akan kesadaran di Mahasuci ini.

Memang "ingat" dan "sadar" itu berbeda. Tidak apa-apa kita berlatih sadar-billāhnya dengan mengingat dan diingatkan melulu. Lama-kelamaan juga kesadaran itu akan terbit berkekalan dengan sendirinya (Q.S. Al-Ankabūt [29]:69).
Karena bukan ilmu yang men-'jadi',
melainkan kesadaran yang men-'jadi'.

— K.H. Undang Sirad


Praktik Melatih Kesadaran Di Mahasuci

Setiap ada ilmu, wajib ada amalnya. Barulah disebut sahih. Jadi ingat selalu bahwa pemahaman tauhid hakiki sekali-sekali bukan hanya untuk menambah wawasan pengetahuan saja, melainkan untuk diamalkan di keseharian.

Tidak apa kita mengamalkannya jatuh-bangun: sering lalai kadang sadar. Itulah juga jihad mengatasi hawa nafsu. Tidak mengapa kita mengamalkannya jatuh-bangun: sering lalai kadang sadar. Karena Allâhﷻ memandang proses, bukan hasil. Karena masalah hasil ibadah kita itu semata-mata ada dalam Kuasa-Nya.

Setiap ada ilmu, wajib ada amalnya. Barulah disebut sahih.
Adapun tempat beramal yang paling utama ialah di dalam ritual ibadah, khususnya di dalam salat.

Latihlah setiap salat seperti ini:
Dalam berdiri menghadap kiblat hendak salat (setelah membaca niat salat), diamkan pikiran dan pesasaan dan sadari keberadaan kita di Mahasuci. Setelah tenang pikiran dan perasaan, barulah angkat takbir.

Usahakan jaga kesadaran di Mahasuci selama salat dari takbir sampai salam. Caranya mengekalkan kesadaran ini bagaimana? Itu tadi, dengan cara mendiamkan pikiran dan perasaan. [Baca juga Tips Salat Khusyuk Tauhidi atau Tips Menerapkan Ihsan dalam Salat atau simak video berikut ini]



Demikianlah, kita saat ini-detik ini ada di Mahasuci. Kalau sudah ada di Mahasuci, artinya keberadaan kita sudah di "alam Tuhan" karena kita beserta Tuhan. Kalau sudah sadar ada di alam Tuhan, mau apa lagi kita masuk-masuk ke alam-alam makhluk lagi? Lebih suka beserta setan daripada beserta Tuhan? Tinggalkan amalan-amalan sedemikian itu. Mudarat dan sesat.

Oya, sekarang kamu lagi ada di mana, Bray?


Di Mahasuci


Kolom komentar di bawah kami tutup agar pembahasannya terfokus di satu tempat. Jika ada pertanyaan dan/atau tanggapan terkait artikel ini, mari diskusikan bersama di page Pusaka Madinah — Tauhid Hakiki kita pada tautan berikut: Di Mahasuci.

Di Mahasuci
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2018-09-08T22:48:00+07:00
Di Mahasuci
5 411 reviews
Buku ISuS

Buku Ilmu Sedikit untuk Segala²nya

Sudah terbit buku untuk memudahkan Ikhwan/Akhwat memahami kajian tauhid hakiki yang termuat di situs ini secara lebih tersusun dari anak tangga pemahaman Islam yang paling dasar. Ikhwan yang berminat memiliki buku ini dapat menghubungi penerbitnya langsung di www.midaslearning.co.id

  • Untuk mengetahui seluk-beluk buku lebih komprehensif, lengkap dengan uraian per bab dan video garis besar kajian buku, silakan kunjungi landing page rekanan resmi kami di: www.bukutauhidhakiki.com
  • Untuk memesan buku dari rekanan resmi yang terdekat dengan kota Ikhwan/Akhwat, silakan kunjungi tautan ini: "Kami di Kota Anda".
"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tags:
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki yang menjelaskan sinergi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat dari kalangan khawwasul khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab at-Tazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

 

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism