"Barangsiapa merasa puas dengan kehidupan duniawinya, sungguh ia lalai-terhijab dan di barzakh akan dibangunkan dalam keadaan terbelalak terkaget² sambil berharap dikembalikan ke dunia untuk menganulir kebodohannya."(catatan: kalimat di atas bukan merupakan sebuah hadis)
Kita dilahirkan lima kali dan takkan pernah sebenar mati.
Sekali dihidupkan, hidup kekal selamanya menurut ukuran makhluk.
Pertama kali dilahirkan di alam ruh dan kita (muslim-nonmuslim) bersyahadat-bersaksi,
"Balā syaḥidnā! Benar, Engkau Tuhan kami!" [7:172].
Di alam arwah kita belum berjasad dan masih berwujud qadim, maka tidak memerlukan makan-minum-tidur-bernapas. Kita berwujud qadim karena kita masih berupa ruh yang alias Nūr Ilahi alias Cahaya Tuhan.
Hanya Adam عليه السلام dan anak-cucunya yang dikaruniai ruh terbuat dari Nūr Ilahi atau Zat Allâḥ. Itu sebabnya para malaikat dan jin pernah disuruh bersujud kepada Adam عليه السلام.
■ Apa bedanya kita dengan Tuhan?
Sejelas perbedaan antara Cahaya dan Pemilik Cahaya itu.
Sejelas perbedaan antara Zat Allâḥ dan Allâḥ Pribadi.
Jika ruh/Nūr Ilahi itu bersifat qadim, tentu Sang Ilahi--Allâḥﷻ--adalah Qadimnya qadim.
Jika ruh/Zat Allâḥ itu bersifat qadim, tentu Sang Ilahi--Allâḥﷻ--adalah Zatnya zat.
👆
memahami detail ini menjaga kita dari kesesatan dalam bermakrifat.
[Baca juga: Allah Bukan Berupa Zat]
[Tonton juga: Perbedaan Qadim dan Muhaddas]
===
Kemudian kita dilahirkan lagi ke alam rahim dengan kehendak-Nya [38: 72]. Di alam rahim kita sudah berjasad: memerlukan asupan makanan dan cairan, tetapi tidak buang hajat. Kita sudah bernyawa: ada ruh dan ada jasad. Ruh kita tetap bersifat qadim, sedangkan jasad kita bersifat muhaddas/baharu.
Terlahirlah kita ke alam dunia melalui rahim ibu. Karena tercipta lebih akhir alias baru, maka jasad kita ini di bahasan tauhid klasik disebut "baharu". Si jasad yang baharu ini tentu tidak tahu-menahu perihal syahadat ketika masih berwujud ruh. Itu sebabnya wahyu pertama-perintah pertama-syariat pertama berbunyi: "IQRA!". Itu sebabnya menuntut ilmu itu hukumnya wajib: agar si jasad yang tidak tahu pernah bersyahadat, jadi tahu dan dari tahu menjadi berilmu, setelah berilmu sampailah ia pada kesadaran Ilahiyah.
Jadi menuntut ilmu untuk dapat ijazah sebagai syarat bekerja dan mendapat gaji tinggi, itulah kadar iqra kaum lalai-terhijab. Kaum batere kalau di film The Matrix mah. Haha.
Disuruh iqra/berpikir kritis agar kelak sampai pada kesadaran untuk mengenal Tuhan. <~~ ini yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام sehingga beliau digelari "Bapak Tauhid" dan Rasulullâḥﷺ diutus untuk menyempurnakannya.
Itu sebabnya Islam itu disebut pula ajaran yang mengikut millah Ibrahim. Maka kalau ada yang ber-Islam hanya paham syariat dan takpeduli makrifat, Islamnya entah mengikut millah siapa. 😛
Bersyukurlah setiap Anda yang selama hidup dikaruniai petunjuk untuk "mencari Tuhan" karena memang tujuan Allâḥﷻ menciptakan makhluk itu agar Dia dikenal, bukan agar Dia disembah. Sebab hanya yang sudah mengenal-Nya yang pasti benar menyembah-Nya.
Jika ada orang hanya paham syariat dan hanya mengamalkan syariat tanpa mengenal Allâḥﷻ dan tanpa mengamalkan makrifat, jatahnya paling² jadi orang saleh yang semoga masuk surga.
■ Perbedaan antara "mengenal" dan "hanya bersyariat":
Ibarat Anda dan majikan sudah saling kenal dan sudah tahu hak dan kewajiban masing². Berdasarkan kontrak perjanjian, Anda bertugas membersihkan halaman rumah majikan. Anda lakukan itu sepenuh hati bukan karena upahnya, melainkan karena Anda sadar adanya kebaikan untuk Anda di situ. Lalu Anda mendapat upah yang sesuai, bahkan bisa lebih jika Anda pribadi yang dicintai majikan. Hadiah² di luar pekerjaan pun Anda dapatkan: namanya juga sudah kenal akrab. Itulah perumpamaan orang yang mengenal.
Lain halnya jika Anda tidak kenal dengan yang bersangkutan. Anda hanya tahu orang tsb. seorang majikan yang sanggup memberi upah. Lalu Anda membersihkan halaman rumah si majikan, padahal tidak saling kenal. Sambil dengan santainya berkata "saya ikhlas mengerjakannya karena engkau majikan". Karena si majikan ini pribadi yang pengasih-penyayang sajalah sehingga Anda tidak diusirnya dan Anda pun diberi upah. Tapi tentu kadarnya berbeda dengan orang pertama di atas. Itu sebabnya surga itu bertingkat-tingkat.
"Banyak orang tahu Tuhan, sedikit sekali yang mau kenal Tuhan."
- Al-Murabbiruh K.H. Undang Sirad -
Bersyukurlah Anda yang selama dihidupkan di alam dunia dikaruniai pengenalan akan Tuhan karena hadiah terbesar dari Allâḥﷻ atas diri seorang hamba ialah Ia mengaruniakan kepahaman makrifat kepadanya tanpa memandang banyaknya dosa dan sedikitnya amal. [Kitab Al-Hikam, Syaikh Aththailah as-Sakandary]
Lalu ajal tiba. Inilah kelahiran ke-4 karena hakikatnya kematian kita itu sekadar pindah alam. Nah, cerita di alam ini menuju kelahiran terakhir, yaitu alam akhirat tentu panjang dan beragam antara kita. Yang pasti kelak di surga dan di neraka sekalipun kita tetap hidup tanpa sebenar mati. (Kalau di neraka sekali tabok lalu mati, enak keenakan banget tu para zionis bangkar warah, wkwkwk)
Alam Arwah -- Alam Rahim -- Alam Dunia -- Barzakh -- Akhirat
Perjalanan panjang, Cuy. Perjalanan panjang yang endingnya ditentukan waktu kita masih di sini.
Gimana?
Masih juga mematok standar hidup ideal itu mengikut yang terpampang di story medsos para terhijab-narsis?
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabiﷺ bersabda, “Allâḥ Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (H.R. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).
👆
itu baru level yang mengingat, bagaimana lagi dengan yang mengenal?

By
Published: 2026-08-03T20:49:00+07:00
LIMA KELAHIRAN

|