Kesalahan Logika Muslim - Allâḥ Ada di Mana-Mana ~ Pusaka Madinah

burnzone

AD (728x60)

Kesalahan Logika Muslim - Allâḥ Ada di Mana-Mana

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]

Performa dan tampilan terbaik laman ini pada peramban Microsoft Edge. Khusus pengguna perangkat mobile: Apabila ada artikel yang tampilannya terpotong, silakan baca dalam mode landscape. Apabila masih terpotong, artinya artikel tersebut hanya nyaman dibaca via laptop atau PC.
landscape mode.

Kesalahan Logika Muslim: Allah Ada di Mana-mana


Jujur saja, masih banyak di kalangan umat Islam yang kurang mensyukuri nikmat akal, yaitu nikmat iqra (berpikir-benar berlandaskan wahyu). Mereka langsung setuju saja dengan kesalahan logika (logical fallacy) pada pernyataan "Tuhan ada di mana-mana."

Mari bandingkan,
Persangkaan manusia: Tuhan ada di mana-mana
Petunjuk Ilahi: Tuhan ada di mana pun kamu berada (Q.S. Al-Ḥadīd [57]:4)
Beda tipis memang, tapi beda tipisnya itu bagai siang dan malam, seperti langit dan bumi.

Yang disebut bicara agama tanpa ilmu, salah satunya, bicara dengan persangkaan atau asumsi semata. Apalagi bicara perihal ketuhanan (tauhid), wajib dengan akal sehat, bersandarkan dalil yang pasti, dan petunjuk Ilahi. Iqra bi-Ismi Rabbikallażī khalaq.


يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa...” (Q.S. Al-Hujurat [49]:12)



Mari kita lebih cermat lagi.
Tanpa dalil pun semua manusia waras akan berkata Tuhan itu pasti hanya Satu (dalam pengertian tunggal). Secara bahasa, makna “di mana-mana” sudah pasti menunjukkan makna jamak, alias lebih dari satu. Simpulan: Tuhan ada di mana-mana = menyatakan Tuhan itu lebih dari Satu.

Jadi, kalimat "Tuhan ada di mana-mana" itu kesalahan logika paling fatal bagi muslim sebab sama dengan menyekutukan Allâḥﷻ. Mendirikan salat dalam keyakinan Allâḥ di mana-mana, itulah salah satu penanda salatnya orang celaka (Q.S. Al-Ma`un[107]:4-5).

Itulah sebabnya hukum memahami tauhid itu fardu `ain alias wajib-prioritas bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan yang sudah balig. Memahami tauhid itu wajib, terlebih wajib daripada mendirikan salat.

Mari beranjak ke Q.S. Al-Ḥadīd [57]:4,


وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada."

Kata Dia mengacu pada Allâḥﷻ. Kata kamu di sini merujuk pada manusia (dan jin). Jumlah manusia itu lebih dari satu. Jadi di sini, yang banyak dan yang ada di mana-mana itu makhluk, bukan Tuhan. Tuhannya tetap satu, makhluknya yang banyak ada di mana-mana.

Simpulan:
Manusia bisa ada di mana-mana, tapi tetap beserta Tuhan yang Esa.


Masih sulit memahaminya?
Baiklah. Untuk mendekatkan paham. Kita ambil perumpamaan. Allâḥﷻ menciptakan alam semesta ini sebagai ayat Kauniyah-Nya agar manusia menggunakan akal sehingga makin kokoh imannya.

Perumpamaan: Laut dan Ikan-ikan.
Laut itu hanya satu. Ikan di dalamnya banyak.
Jadi, di mana pun, ke mana pun ikan itu berenang, tetap bersama air 'kan?!

Begitulah hubungan-kedudukan atau hal-keadaan kita dengan Allâḥﷻ. Ke mana pun kita pergi, di mana pun kita berada, Allâḥﷻ tetap beserta kita. Bukan Allâḥ-nya yang ada di mana-mana.

Pendekatan pahamnya: ke mana pun ikan itu berenang, tetap berhadapan dengan air. (lihat gambar)

Ke mana pun ikan berhadap, di situ wajah air


وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُ‌ۚ فَأَيۡنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِ‌ۚ
"Dan kepunyaan Allâḥ-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allâḥﷻ." (Q.S. Al-Baqarah[2]:115)

Catatan:
Kata Wajah pada ayat itu mengacu ke Sifat Maha Meliputi Allâḥﷻ di Q.S. Al-Fuṣṣilat [41]:54, jangan diartikan Allâḥﷻ punya wajah. Itu syirik sebab sama dengan mempersonifikasi Allâḥﷻ alias menyerupakan Allâḥﷻ dengan makhluk.


"Dam, kan di Quran (as-Syura:11) dikatakan tidak ada yang seumpama dengan Allâḥﷻ. Kenapa di sini kamu berani-beraninya mengumpamakan Allâḥﷻ seperti laut?"
Jangan salah paham. Di atas itu saya bukan mengumpamakan Allâḥ-nya, melainkan mengumpamakan hubungan atau hal-keadaan antara Allâḥ dan makhluk-Nya. Oke?!

Demikian adanya. Semoga bermanfaat. Ini catatan lama [26 Apr 2016 21.53] yang pernah dimuat di situs kami terdahulu (tawhidtalk.com) yang sayangnya sudah tidak mengudara.


Kolom komentar di bawah kami tutup agar pembahasannya terfokus di satu tempat. Jika ada pertanyaan dan/atau tanggapan terkait artikel ini, mari diskusikan bersama di page Pusaka Madinah — Tauhid Hakiki kita pada tautan berikut: Kesalahan Logika Muslim: Allâḥ Ada di Mana-Mana

Kesalahan Logika Muslim - Allâḥ Ada di Mana-Mana
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2020-02-03T00:23:00+07:00
Kesalahan Logika Muslim - Allâḥ Ada di Mana-Mana
5 411 reviews
Buku ISuS

Buku Ilmu Sedikit untuk Segala²nya

Sudah terbit buku untuk memudahkan Ikhwan/Akhwat memahami kajian tauhid hakiki yang termuat di situs ini secara lebih tersusun dari anak tangga pemahaman Islam yang paling dasar. Ikhwan yang berminat memiliki buku ini dapat menghubungi penerbitnya langsung di www.midaslearning.co.id

  • Untuk mengetahui seluk-beluk buku lebih komprehensif, lengkap dengan uraian per bab dan video garis besar kajian buku, silakan kunjungi landing page rekanan resmi kami di: www.bukutauhidhakiki.com
  • Untuk memesan buku dari rekanan resmi yang terdekat dengan kota Ikhwan/Akhwat, silakan kunjungi tautan ini: "Kami di Kota Anda".
"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tags: , ,
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki yang menjelaskan sinergi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat dari kalangan khawwasul khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab at-Tazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

 

Ikuti kabar terbaru via e-mail

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism