DI GUA HIRA, NABI MUHAMMADﷺ BERTAPA? ~ Pusaka Madinah

burnzone

AD (728x60)

DI GUA HIRA, NABI MUHAMMADﷺ BERTAPA?

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]

Performa dan tampilan terbaik laman ini pada peramban Microsoft Edge. Khusus pengguna perangkat mobile: Apabila ada artikel yang tampilannya terpotong, silakan baca dalam mode landscape. Apabila masih terpotong, artinya artikel tersebut hanya nyaman dibaca via laptop atau PC.
landscape mode.

TANYAAN:

Assalamu Alaikum Wr Wb....

Bagaimana masalah Bertapa, Semedi dan Meditasi dalam sudut pandang Tauhid Hakiki. Ketika Nabi Muhammad Rasululâḥﷺ..di GUA HIRA...itu termasuk dalam yg mana yg saya sebutkan tadi??

Mohon perkenannya untuk memberikan pemahaman untuk menguatkan ,.Aqisahku...terima kasih sebelumnya..wassalamu alaikum Wr. WB...

BUKAAN:

{Sebenarnya pertanyaan serupa ini pernah juga ditanyakan pada saya oleh kalangan kebatinan anak buah sesepuh kejawen, Ki Sabda Langit..dulu waktu sy masih sering "tabok-tabokan" sama para kejawenis, hehehe.  

Mungkin sejarah Nabi di gua Hira ini sudah banyak dipakai sebagai legitimasi untuk menghalalkan tapa dan sejenisnya ke dalam Islam sehingga banyak kaum muslim pun yg terpedaya. Allaahua'lam.}

TANGGAPAN:

Alaikumsalam wa rahmatullaahi wa barakatuh,  Nabi Muḥammadﷺ di Gua Hira itu beruzlah untuk tadabur alam yang hasilnya jadi tafakur, Pak..

  • uzlah: menyendiri
  • tadabur: observasi
  • tafakur: merenung, kontemplasi

InsyaAllâḥﷻ, beliau tetep makan minum tidur sambil memikirkan penciptaan langit dan bumi yang berakhir pada renungan akan Pencipta (dipatrikan dalam Al-Imran:190-191) sampai akhirnya berbuah turunnya wahyu pertama, perintah pertama, syariat pertama: IQRA.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ ۚ  ۖ 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allâḥﷻ) bagi orang yang berakal,

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ  وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ  رَبَّنَا مَا  خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا  ۚ  سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allâḥﷻsambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

[Q.S. Ali 'Imran: Ayat 190-191]

Garis bawahi:

"dalam keadaan berbaring-duduk-berdiri" = dalam setiap keadaan biasa, bukan keadaan dibuat-buat seprti tapa-meditasi.

Sebab dalam sirah nabawi diriwayatkan Rasulullahﷺ membawa perbekalan makanan dan minuman  yang disiapkan oleh Ummul mu'minin, Siti Khadijah, r.a.

Di gua Hira beliau tidak puasa, tidak pati geni, tetap beraktivitas biasa seperti di rumah. 

Setahu saya, yang namanya tapa-brata dsj. itu 'kan menyiksa jasad:

  • tidak boleh makan-minum dan tidak banyak gerak;
  • hanya makan dr apa yang kebetulan ada di situ..misalnya pas ada kecoa lewat..ambil lalu makan. (Hiiy!!);
  • Minum juga dr tetesan air gua kalau ada (mungkiin hehe);
  • ...atau nunggu ada lelembut yg datang nyuapin?

Setahu saya, teknik tapa-meditasi itu dalam keadaan mata terpejam (untung bukan merem-melek ya..wkwk) dan memfokuskan perhatian ke satu titik atau hal tertentu. 

Sedangkan Rasululâḥﷺ berdasarkan data sejarah tidak melakukan hal seperti itu karena memang tidak pernah disyariatkan seperti tapa itu.

Belum yakin? Perlu bukti pasti?

Baik.

Mari kita ke rukun Islam pamungkas: 

IBADAH HAJI.

Rukun terakhir dan paling wajib dalam ritual haji adalah WUKUF DI PADANG ARAFAH.
Wukuf artinya diam, Arafah artinya kenal.

Makna hakiki Wukuf di Arafah artinya diam di semesta pengenalan atau diam dalam pengenalan (pada sebenar-benar Tuhan) <-- inilah yang di pengajian Pusaka Madinah disebut tafakur hakiki.

Tafakur hakiki itu:

Jasad bergerak-bekerja, lisan berucap-makan-minum, tetapi hati diam sediam-diamnya: kekal beserta Allâḥﷻ. 

"Man 'arafallaaaha kalla lisanuhu"

Siapa mengenal sebenar-benar Allâḥﷻ, kelu lidahnya.

Kelu lidah: diam

Ada juga hadis Qudsy:

"Kif yaa Muhammad, Ana Rabbaka usalli."

Sayangnya, rata-rata jemaah haji karena awam terhadap pelajaran tauhid hakiki, ketika wukuf di arafah itu bukannya bertafakur jumpa Allâḥﷻ, melainkan membanyakkan zikir-wirid dan tadarus jumpa bacaan Nama-Nya saja.

Coba kalau pas wukuf di Arafah itu bertafakur, insya Allâḥﷻ pas pulang ke tanah air total mabrur-nya. GERAK DAN DIAMNYA TOTAL MABRUR DALAM DIAM PENGESAAN.

Jadilah ia haji mabrur dalam pengesaan, bukan sekadar mabrur dalam penggelaran. Allaahua'lam.

Referensi:

HAJI SYARIAT, HAJI HAKIKI

SIMPULAN:

Tapa-brata, semedi, meditasi, meraga sukma (astral projection), ngimpleng, terawangan, dsj. TIDAK ADA DI ISLAM KARENA MEMANG TIDAK PERNAH DISYARIATKAN.

DI GUA HIRA, NABI MUHAMMADﷺ BERTAPA?
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2026-08-03T19:16:00+07:00
DI GUA HIRA, NABI MUHAMMADﷺ BERTAPA?
5 411 reviews
Buku ISuS

Buku Ilmu Sedikit untuk Segala²nya

Sudah terbit buku untuk memudahkan Ikhwan/Akhwat memahami kajian tauhid hakiki yang termuat di situs ini secara lebih tersusun dari anak tangga pemahaman Islam yang paling dasar. Ikhwan/Akhwat yang berminat memiliki buku ini dapat menghubungi kami melalui Whatsapp

  • Ikhwan/Akhwat di Malaysia bisa memesan buku ke nombor kontak nama Mohd. Firdaus melalui Whatsapp
"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tags:
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki yang menjelaskan sinergi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat dari kalangan khawwasul khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab at-Tazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

 

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism