burnzone

AD (728x60)

Jika Anak Bertanya tentang Tuhan

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tampilan terbaik laman ini pada peramban Chrome





In English:When Kids Asking about God.

Salaam Sobat..
Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu   rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi "tak mau tahu" alias ignoran, hehehe). Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang Tuhan. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan mahapenting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya...

Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:
Daftar tanya:
[] Tanya 1: "Bu, Tuhan itu apa sih?"
[] Tanya 2: "Bu, bentuk Tuhan itu seperti apa?"
[] Tanya 3: "Bu, kenapa kita gak bisa lihat Tuhan?
[] Tanya 4: "Bu, Tuhan itu ada di mana?
[] Tanya 5: "Bu, kenapa kita harus nyembah Tuhan?"
[] Katakan juga
[] Kisah Anak yang "Melihat" Tuhan
[] Pendidikan Dini Sejak dalam Kandungan


Tanya 1: "Bu, Tuhan itu apa sih?

Jawablah:
"Nak, Tuhan itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)



Tanya 2: "Bu, bentuk Tuhan itu seperti apa?"

Jangan jawab begini:
"Bentuk Tuhan itu seperti anu ..ini..atau itu...." karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini:
"Adek tahu 'kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)

[baca juga Melihat Tuhan]



Tanya 3: "Bu, kenapa kita gak bisa lihat Tuhan?


{Bagian ini ditambahkan setelah berdiskusi di kolom komentar di bawah dengan Miss VogueChica-saudari kita dari Negeri Jiran, Malaysia.}

Jangan jawab begini:
Karena Tuhan itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Jawaban bahwa Tuhan itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.

Al-Hadid (57) : 3
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Tuhan dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan Tuhan itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan

Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) "barang" dan "sesuatu" yang ditujukan pada Tuhan. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai'un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af'al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af'al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17){ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua'lam}


Jawablah begini:
"Mengapa kita tidak nampak Allah?"
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris )
"Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak 'kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah, nampak matahari aja kita tak sanggup. Jadi, macam mana kita nak nampak Pencipta matahari itu. Iya 'kan?!"


Atau bisa juga beri jawaban:
Adek, lihat langit yang luas dan 'besar' itu 'kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit 'kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.

Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan "Melihat Tuhan".
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek 'kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?

Simpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. "Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara."




Tanya 4: "Bu, Tuhan itu ada di mana?


Jangan jawab begini:
"Nak, Tuhan itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy."

Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Tuhan ada di langit, apakah di bumi Tuhan tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Tuhan...berarti prinsip Allahu Akbar itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]
ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ
Dia bersemayam di atas ’Arsy

[Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.]


Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

 إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. [Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36].

Ke-4 ulama salaf dari 4 mahzab ijma' untuk tidak dimaknai secara dhohir ayat-ayat mutasyabihat, meyakini dengan apa yang diturunkan Allah dengan apa adanya,tidak menta'wilnya dan tidak menayakan bagaimananya. Rujukan dari imam syafi'i Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. [Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36].

Kemudian tentang hadist jariah : Inilah pemahaman Imam Syafi’i tentang Hadits Jariyah : Berkata Imam asy-Syafi’i –rahimahullah- :

واختلف عليه في إسناده ومتنه، وهو إن صح فكان النبي - صلى الله عليه وسلم - خاطبها على قَدرِ معرفتها، فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون فيالأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟ حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرفأنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله، أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب.

Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matannya (hadits jariyah), dan seandainya shahih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurutkadar pemahaman nya, karena bahwa dia (hamba) dan kawan kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanannya, maka Nabi bertanya:“Di mana Allah?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam, maka manakala ia menjawab: “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah, yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”.

[Lihat Kitab Tafsir Imam asy-Syafi’i pada surat al-Mulk -قال الله عزَّ وجلَّ: أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ -] dan [Lihat Kitab Manaqib Imam Syafi’i jilid 1 halaman 597 karangan Imam Baihaqqi, pada Bab -ما يستدل به على معرفة الشَّافِعِي بأصول الكلام وصحة اعتقاده فيها- ]

Juga jangan jawab begini:

"Nak, Tuhan itu ada di mana-mana."
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Tuhan itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:
"Nak, Tuhan itu dekat dengan kita. Tuhan itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Tuhan selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada."
[baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas]

"Qalbun mukmin baitullah", 'Hati seorang mukmin itu istana Allah." (Hadis)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S.Al-Baqarah (2) : 115)

"Tuhan sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Tuhan untukmu, Sayang."  (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)



Tanya 5: "Bu, kenapa kita harus nyembah Tuhan?"

Jangan jawab begini:
"Karena kalau kamu tidak menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke surga."

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Tuhan, bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,"Masak sama Tuhan kayak dagang aja! Yang namanya Tuhan itu berarti butuh penyembahan! Tuhan kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!"


"Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya." (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)

Jawablah begini:
"Nak, kita menyembah Tuhan sebagai wujud bersyukur karena Tuhan telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, 'kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Tuhan, Adek yang rugi, bukan Tuhan. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)
[baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?]


Katakan juga pada anak:

"Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Tuhan, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?! (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

"Kenapa, Bu?"

"Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Tuhan tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Tuhan selalu ada untuk kamu. Nanti, Tuhan juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu."

Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Tuhan. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Apabila seseorang ingin berdialog dengan Rabbnya maka hendaklah dia membaca Al Quran. (H.R. Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)


Sekelumit kisah anak yang "melihat" Tuhan

{Bagian di bawah ini ditambahkan setelah berdiskusi dengan Neng Ita, empunya lapak diduniakata dan Keep Learning, juga via komentar di bawah. Saya ucapkan terima kasih pada Miss VogueChica dan Neng Ita, tentu juga pada semua Sobat Sarang yang turut berbagi pemikiran via komentarnya masing-masing; belum pada kapok juga main ke sini, hehehe..}

Yang satu ini berdasarkan pengalaman keponakan Miss VogueChica:
Anak saudara sy yg sgt comel(wkt itu umurnya sekitar 5 thn) prnh bkata, "Allah itu baik kn..?Tangannya putih aja.." Mungkin dia cuba mgambarkn yg baik2 ttg Allah.Tp sy lbh terfokus pd ayatnya yg ke2 itu.Krn rasanya ada yg harus dperbetulkn.& terfikir pula apa & bgmna harus dperkatakn pdnya.

Setelah bfikir sejenak,sy katakn pdnya, "Tapi kita gk bisa bilang bgitu sbb kita tdk nmpk Allah.Tapi wlaupun kita tdk nmpk,Allah itu tetap ada.."

Mungkin bisa kita jawab begini?
Itu bukan tangan Allah, yang kamu lihat itu mungkin tangan malaikat yang diutus Allah untuk menunjukkan kebaikan-Nya pada kamu. ^_^

Baru setelah dua hari kemudian, saya pun jadi teringat dengan cerita keponakan saya (namanya Donny, sekarang ia sudah kuliah). Waktu itu Donny masih balita ketika kakak perempuannya (Noviana Permata Fury) yang baru sebulan masuk SMP berpulang ke Rahmatullah. Tak lama setelah itu, Donny bercerita kalau dia bermimpi Kakak tercintanya itu mendatanginya ditemani seorang malaikat. Kakaknya itu memberikan beberapa nasihat pada Donny kemudian dibawa sang malaikat pergi menuju cahaya. Ke Tuhan. (Duh, Opoy, jadi haru n kangen nih.. ;_()

Di kemudian hari, sekira Donny SMP atau SMA, ia bercerita lagi bahwa saat mengalami kejadian itu ia tidak yakin apakah dia bermimpi atau sebenarnya sungguh terjadi. Allahua'lam. Tentu yang dimaksud pergi menuju cahaya. Ke Tuhan, bukanlah berarti Allah itu berupa cahaya, ya.. :)
{Neng Ita juga konon punya pengalaman masa kecil, tapi beliau belum cerita soal itu. Kita tungguin aja yah.. hehehehe.}

Aha! akhirnya Neng Ita angkat cerita :D :
crita ya... ummmm................................. :-?
susah diungkapin, tp bisa kurasakan beberapa crita pengalaman masa kecil, Ketika ngaji di TPA dulu waktu kecil aku hanya bisa membaca iqra yang hanya rangkaian beberapa huruf hijaiyah saja sedangkan teman2 seumuranku sudah dapat mengaji dgn rangkaian ayat2 Qur'an yg cukup panjang. mereka mendapat reward atas apa yg mereka baca, aku tidak T_______T

sungguh aku bener2 tidak mampu/buta sama sekali untuk mengeja rangkaian2 ayat itu.

ntah bagaimana dalam waktu ga lama tiba2 kok "cling" otak ini bekerja dan berpikir, "mungkin seperti ini... seperti ini.... membacanya" padahal dalam wktu itu aku tidak pernah berlatih membaca atau dibimbing untuk membaca ayat, hmmmm... dan alhasil berdasarkan pemahaman yg tiba2 muncul, aku memberanikan diri untuk membaca didepan ustadz dan ustadz diam mendengar tanpa banyak koreksi. heh...... *kanget

sebenernya jika dipikir2 lagi bnyk sekali crita2 bagaimana Alloh membimbing kita untuk mengenal ilmuNya. cuman kebanyakan manusia tidak mau berpikir *halah bahasa ku rek

Subhanallah... kalimat Neng Ita ini bisa dijadiin pedoman melihat Allah:
"susah diungkapin, tp bisa kurasakan"



Pentingnya pendidikan dini sejak dalam kandungan

Sebelum ilmuwan Barat menemukan dan menyarankan para ibu hamil agar memperdengarkan musik klasik untuk meningkatkan IQ janin yang sedang dikandungnya, tradisi muslim sudah melakukan hal serupa. Para orang tua muslim yang sedang menunggu momongan lahir dianjurkan untuk lebih rajin mengaji atau memperdengarkan rekaman resitasi Quran.

Seorang arif billah berkata pada saya, sebenarnya adanya hukum tajwid dalam Quran, selain untuk tujuan akurasi pelafalan (tartil), juga merupakan alunan nada Yang Qadim. Dengarkan dengan saksama sambil tafakur tanpa berpikir apa-pun dan tanpa hati berbisik-bisik apa pun. Dengarkan dengan syir hati, kata beliau. Mencerdaskan akal dan hati sehingga tersingkirlah kegelapan syirik dalam diri. Allahua'lam.

*kesalahan orang tua muslim masa kini adalah lebih sibuk mencarikan les-les bahasa Inggris, matematika, atau piano. Mereka bangga anaknya sudah bisa bahasa Inggris atau nilai matematikanya bagus. Mereka tidak prihatin atau sedih kalau anak-anaknya belum mengenal huruf-huruf hijaiyyah..huruf-huruf yang mengantarkan anak-anak juga orang tuanya pada keridaan dan kasih sayang Tuhan di dunia dan di akhirat.

Hmm..kira-kira demikian menurut pandangan saya. Mudah-mudahan Sobat sekalian sudi memberi masukan karena tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan diskusi, bukan fatwa..ahahaha! Mungkin tata kalimat di tulisan ini terlalu "berat" untuk dicerap oleh anak atau ada pertanyaan anak yang belum tercantum di sini. Mari kita diskusikan bersama demi terbentuknya generasi tauhidi yang cerdas akal dan imannya.

Ini berpangkal pada petunjuk, "Awwaluddin makrifatullah",'awal agama mengenal Allah'. Bukan mengenal salat dulu.[baca juga Awwaluddin Syariatullah di Antara Kita]

Ya Allah, jika ada di antara kami yang belum Engkau karuniai keturunan, karuniailah kami dan karuniakan juga atas kami kemampuan untuk menjaga amanat-Mu itu sehingga keturunan kami menjadi insan-insan yang Engkau ridai. Amin.

Allahua'lam.
Jika Anak Bertanya tentang Tuhan
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2011-06-09T14:41:00+07:00
Jika Anak Bertanya tentang Tuhan
5 411 reviews
Tags: , ,
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki bagi kalangan khawwas al khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab an-Nazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

 

Ikuti kabar terbaru via e-mail

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism