burnzone

AD (728x60)

Tips Ketika Berjumpa Khidr

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tampilan terbaik laman ini pada peramban Chrome.

Khusus pengguna perangkat mobile: Apabila ada artikel yang tampilannya terpotong, silakan baca dalam mode landscape. Apabila masih terpotong, artinya artikel tersebut hanya nyaman dibaca via laptop atau PC. Harap maklum.
landscape mode.

Tips Ketika Berjumpa Khidr


Siapa Khidr a.s. itu?

Bila Islam diibaratkan sebuah yayasan pendidikan,
Allâhﷻ adalah pemilik yayasan,
Rasulullâḥﷺ adalah kepala sekolahnya, dan
Khidr a.s. adalah wali kesiswaan.

Yang membina dan memberikan ijazah kelulusan ialah Khidr a.s. atas instruksi kepala sekolah, Rasulullâḥﷺ, dengan rida pemilik yayasan, Allâhﷻ. Singkat kata, Khidr a.s. itu pengawal zaman.


Siapa para siswa di sekolah itu?

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Dāwud Al-Mahriy, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Sa’īd bin Abi Ayyūb, dari Syarāhīl bin Yazīd Al-Mu’āfiriy, dari Abu ‘Alqamah, dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ‘anhu-, yang mana aku mengetahuinya dari Rasulullâḥ, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allâh akan membangkitkan untuk umat ini di setiap awal 100 tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama ini.” [Sunan Abu Dāwud 6/349, Dār Ar-Risālah Al-‘Ālamiyyah]

Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Adiy (Al-Kāmil fiy Aḍ-Ḍu’afā’ 1/205); Al-Hākim (Al-Mustadrak 4/516); Al-Baihaqiy (Ma’rifatus Sunan wal Atsār no. 109); Aṭ-Ṭabarāniy (Mu’jam Al-Ausath no. 6527); ‘Uṫmān Ad-Dāniy (As-Sunan Al-Wāridah no. 364); Ibnu ‘Asākir (Tabyiin Kadzib Al-Muftariy no. 34, 35; Tārīkh Dimasyq 51/338); Al-Khaṭīb (Tārīkh Baghdād 2/399); Al-Harawiy (Ḍammul Kalām 2/111), semua dari jalan Ibnu Wahb, dari Sa’īd bin Abu Ayyūb dan seterusnya secara marfū’. Disebutkan pula oleh Ibnu Kaṫīr dalam Ṭabaqāt Asy-Syāfi’iyyah 1/33 dengan sanadnya dari Al-Khaṭīb, dan Yūsuf Al-Mizziy dalam Tahdziibul Kamāl 12/413 dan 24/364 dengan sanadnya dari Abu Nu’aim Al-Aṣbahāniy.


إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (H.R. al-Imam at-Tirmidzi di dalam sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam musnad-nya (5/169), ad-Darimi di dalam sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam muqaddimah-nya, serta dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban. Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Sahih Sunan at-Tirmizi no. 2159, Sahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Sahih at-Targib, 1/33/68)

Ulama pewaris kenabian itu yang bagaimana?

Yaitu orang-orang berilmu (`alim) yang mengantarkan umat kepada Allâhﷻ, bukan yang memperkenalkan umat soal surga dan neraka sebagai stasiun akhir. Mengantarkan umat sampai kepada Allâhﷻ berdasarkan petunjuk-petunjuk-Nya: itulah yang dikerjakan para nabi. Awwaluddīn ma`rifatullâh.

Jadi, para siswa di sekolah itu ialah para `arif billâh dari kalangan khawwasul khawwas, bukan habib- bukan kyai-bukan ustaz lulusan universitas maupun pesantren mana pun. Juga bukan para "wali" kelas mabuk, yaitu mereka yang disebut majdub.


Siapa saja yang berhak berjumpa Khidr a.s. itu?

Yaitu mereka yang menempuh empat jalan dalam satu waktu, syariat-tarikat-hakikat-makrifat sekaligus serta istiqamah, amanah, dan menjaga adab dalam menjalaninya. Istiqamah hanya berhajatkan Allâhﷻ dan amanah dan menjaga adab terhadap Rasulullâḥﷺ.

Ulama yang mengajarkan makrifat sambil membunuh syariat, tidak masuk dalam golongan ini. Camkan itu. Ulama yang mengajarkan ilmu-ilmu khadam tidak masuk dalam golongan ini. Camkan itu. Ulama yang mengajarkan ilmu-ilmu kebatinan tidak masuk dalam golongan ini. Camkan itu.


Bukan Ilmu Islam




Dalil Perjumpaan dengan Khidr a.s.

  • Q.S. Al-Kaḥfi: 65-82
  • Q.S. Al-Ankabūt: 69

وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُواْ فِينَا لَنَہۡدِيَنَّہُمۡ سُبُلَنَا‌ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk [mencari keridaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.


Dua Keadaan Ketika Berjumpa Khidr a.s.


Di antara para siswa yayasan yang tersebar di seluruh pelosok bumi, beberapa di antara mereka dinilai sudah cukup untuk menerima ujian akhir kelulusan. Maka ujian itu terjadi dalam pertemuan dengan sang wali siswa, Khidr alaihissalam.

Hal yang selalu terjadi dalam ujian akhir:
Ketika berjumpa dengan Khidr a.s., selalunya `arif billâh terpilih itu begitu bahagianya lalu bertanya ini-itu dan meminta diajari ilmu Allâh yang begini-begitu. Tentu diberi dan diajari oleh Khidr a.s. sebab selalu berlaku "Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku." (hadis qudsy).

Lalu ia dapatlah segala ini-itu yang diminta, lalu diraihlah ilmu begini-begitu yang didamba. Tetapi hanya itu dan jatah perjumpaan pun berakhir. Berpisahlah siswa dan wali siswa dengan hasil ujian yang hanya seperti itu. Itu yang kauminta, itu yang kaudapat. Sebatas itu saja.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allâh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al-Ankabūt:2-3)


Hal yang hanya sekali terjadi dan tidak pernah terulang lagi dalam ujian akhir:
Ada satu orang yang diperjumpakan dengan Khidr a.s. ketika itu. Orang ini tahu siapa yang ada bersamanya, yaitu wali siswa sekolah ketuhanan. Orang itu bersikap biasa-biasa saja. Orang itu diam saja. Bukan tidak bahagia berjumpa Khidr; bukan kurang hormat dan takzimnya pada Khidr, melainkan di pikiran orang ini, "Aku mencari sampai ke Tuhan, bukan mencari perjumpaan dengan makhluk lagi."

Giliran Khidr a.s. yang kini terpesona. "Ini dia sebenar hamba Allâhﷻ akhir zaman. Ini dia sebenar umat Muḥammadﷺ akhir zaman."


إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ لأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللهِ تَعَالَى . قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا ، فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ).
Sesungguhnya dari hamba-hamba Kami ada sekelompok manusia, mereka itu bukan para nabi dan bukan para syuhada’. Para nabi dan syuhada’ merasa cemburu kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allâh di hari kiamat. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullâh? Beliau menjawab: Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allâh padahal tidak ada hubungan persaudaraan (saudara sedarah) antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris), Maka demi Allâh sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya, dan sesungguhnya mereka di atas cahaya, mereka tidak takut ketika manusia merasa takut, dan tidak pula sedih ketika manusia sedih, kemudian beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allâh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Q.S Yunus [10]: 62]. (H.R. Abu Dawud, nomor 3060)

Karena orang ini diam dalam takzim, kini justru Khidr a.s. yang "cerewet". Diberikan semua yang ada. Diberikan semua yang tidak diminta dan tidak didamba. Diberikan dan diajarkan semuanya. Semuanya. Lulus dengan predikat summa cum laude.

Banyak yang mengaku berjumpa Khidr a.s., tetapi yang benar berjumpa bisa menakar kebohongan. Ciri benar pernah berjumpa Khidr a.s., ia menguasai dan dapat mengajarkan ilmu Khidr a.s. yang utama, yaitu bahasa Nūr; bahasa cahaya.

اتقوا فراسة المؤمن ، فإنه ينظر بنور الله
Takutilah firasat orang mukmin karena sesungguhnya dia memandang dengan Nūr Ilāḥi. (H.R. Tirmizi)

Itulah tipsnya. Ada di dalam diam; di dapat di dalam diam.
Ingat ya, perjumpaan ini terjadi dalam keadaan sadar penuh dan terjaga, bukan dalam mimpi dan bukan setengah-sadar (trance).
Pengijazahan segala ilmu itu pun dilakukan di tempat khusus. Di mana? Tentu saja di domain yang dikuasakan Allâhﷻ atas Nabi Khidr a.s., bukan di warung kopi atau di pinggir jalan.

Sebenarnya tips ini sudah kadaluwarsa. Sebenarnya tips ini sudah tidak berlaku lagi. Apa sebab? Sebab setelah semua diamanahkan pada seorang hamba, Khidr a.s. pun libur dan tidak akan menjumpai siapa pun lagi sampai era perlawanan terhadap Dajjal laknatullah kelak. Allâhua`lam.

Mengapa baru diberitahu setelah kadaluwarsa dan tidak berlaku lagi?
Sebab kalau diberitahukan sebelumnya, tidak akan disebut ujian.

Mengapa diberitahukan setelah segalanya terlambat?
Tidak terlambat, tetapi sesuai dengan keperluannya.
Penutup pintu kenabian diberitahukan setelah diangkatnya Nabi Muḥammadﷺ.
Penutup pintu kenabian artinya perhimpunan segala kenabian sejak Adam a.s.
Demikian juga penutup pintu kelulusan dari Khidr a.s. diumumkan setelahnya.
Penutup kelulusan dari Khidr a.s. artinya perhimpunan segala ilmu pewaris kenabian.

Kalau cara Dajjal itu seperti ini:
Dokumen operasi rahasia pemerintah Amerika baru akan dibuka untuk umum setelah 50 tahun kemudian. Itu yang dikatakan sengaja terlambat. Itu yang disebut makar.

Kalau sudah kadaluwarsa, lalu kita bagaimana?
Ikutilah jalan orang-orang yang sukses sampai ke Allâhﷻ.
Jangan ikuti jalan orang-orang yang sukses sampai kepada yang bukan Allâhﷻ.

Dalil sebelum berjumpa Khidr a.s., Al-Ankabūt: 69.
Dalil kunci perjumpaan dengan Khidr a.s., Al-Ankabūt: 2-3.
Malah kembali ke ayat awal surah. Maksudnya apa ini?

Maksudnya,
Kalau sudah di puncak, jangan lupa yang dasar.
Kalau sudah di makrifat, jangan membunuh syariat.
Jadilah ahli makrifat yang bersyariat; ahli syariat yang bermakrifat.

Memangnya kamu sudah pernah ketemu Khidr, Dam?"
"Belum pernah dan tidak tahu."

Allâhua`lam.
Tips Ketika Berjumpa Khidr
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2017-02-24T21:31:00+07:00
Tips Ketika Berjumpa Khidr
5 411 reviews
"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tampilan terbaik laman ini pada peramban Chrome
Tags:
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki bagi kalangan khawwas al khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab an-Nazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

 

Ikuti kabar terbaru via e-mail

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism