burnzone

AD (728x60)

Cahaya Tuhan Bernama Allah

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tampilan terbaik situs ini pada peramban Chrome



Ketika belum ada sesuatu, tentu belum ada yang mengatakan Tuhan. Kemudian Tuhan Berkehendak diri-Nya disebut Tuhan dan minta dikenal, maka diciptakanlah makhluk.

Makhluk apa yang pertama diciptakan-Nya? Inilah yang perlu dikenal, yaitu Cahaya Diri-Nya Sendiri. Inilah Rahasia Diri-Nya, inilah yang bernama Allah

Jadi, Cahaya Diri  Tuhan itulah yang bernama Allah, juga bernama Nur, juga bernama Rahasia. Insan dan semesta alam juga dari Cahaya Diri-Nya.

Jika Cahaya itu diri kamu, sampailah kamu dan beserta Tuhanlah kamu.

- Syaikh Undang Sirad -

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٍ۬ فِيہَا مِصۡبَاحٌ‌ۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ‌ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّہَا كَوۡكَبٌ۬ دُرِّىٌّ۬ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ۬ مُّبَـٰرَڪَةٍ۬ زَيۡتُونَةٍ۬ لَّا شَرۡقِيَّةٍ۬ وَلَا غَرۡبِيَّةٍ۬ يَكَادُ زَيۡتُہَا يُضِىٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٌ۬‌ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ۬‌ۗ يَہۡدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَـٰلَ لِلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (٣٥)

Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca [dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, [yaitu] pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur [sesuatu] dan tidak pula di sebelah barat [nya], yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis], Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An-Nur:35)
Tags: ,
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki bagi kalangan khawwas al khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab an-Nazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

35 komentar:

Khartie Kebumen mengatakan...

JUJUR saya masih bingung....
dari tadi dah baca dari beberapa ''judul'' artikel didalam ini
ENDINGNYA saya pegang kepala ....
dan ada ''GREGET'' buat ketemu langsung dengan anda untuk belajar lebih banyak lagi........

MUXLIMO mengatakan...

Saya pahami kebingungan, Mbak Khartie.. memang sebenarnya apa-apa yang tertulis di blog ini, khususnya pada label "di sama-tengah hati" semata sebagai pengantar agar pembaca mencari penjelasan selanjutnya dari guru masing-masing. Jika guru yang bersangkutan belum bisa menjelaskan, dianjurkan untuk mencari yang bisa menjelaskannya sehingga sirna keragauan dan terbitlah keyakinan akan kebenaran dan kedalaman akidah Islam yang sebenarnya.

Secara syar'i tampaknya pembahasan hakiki memang harus melalui talaqqi, yaitu belajar ilmu agama secara langsung kepada guru yang mempunyai kompetensi ilmu, tsiqah, dhabit dan mempunyai sanad keilmuan yang muttashil sampai ke Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui para ‘Ulama ‘Aalimin ‘Aarifin.

Dan jika suatu hari Allah mempertemukan kita secara langsung, tentu akan saya antar Mbak berjumpa Syaikh Sirad. Sebab, beliaulah yang guru, saya ini bukan guru tauhid, sekadar penyambung lidah saja, Mbak :21:

sobat dekat mengatakan...

Dari tulisan Mas Muxlimo yg menurut pengertian saya bahwa Mahluk yang pertama diciptakan tuhan yaitu cahaya dirinya sendiri, inilah rahasia diriNya dan ini jugalah yang dinamakan ALLAH. Berarti ALLAH itu adalah ciptaan Tuhan yang bersumber dari cahaya Tuhan itu sendiri ??? Jadi apakah Tuhan yang sebenarnya itu bukan yang namanya ALLAH ??? hanya ciptaannya saja yang namanya ALLAH sebagai Mahluk pertama diciptakan ??? Tolong penjelasannya Mohon maaf dan trima kasih sebelumnya. Wassalam

sobat dekat mengatakan...

Lalu bagaimana pula dengan kalimat Tauhid LAA ILAHA ILLA ALLAH Tiada Tuhan Selain ALLAH !!!

MUXLIMO mengatakan...

Secara sederhana prinsip tauhid memfatwakan:
1. Setiap yang bukan Tuhan, pasti makhluk dan bukan Tuhan dan tidak sama dengan Tuhan Pribadi;
2. Setiap yang ber-zat dan ber-sifat pasti makhluk, bukan Tuhan


InsyaAllah memang benar demikian adanya. Meski banyak (maaf) ulama buta tauhid di luar sana yang menentang fakta dalil dan burhan bahwa kata "ALLAH" itu semata Nama bagi Zat (Ismu Zat). Sedangkan Tuhan Pribadi itu laysa kamitslihi syai'un: tidak ber-Zat, bukan berupa Zat.

Jadi, perkataan "ALLAH" itu hakikatnya semata sebagai penyebutan Nama bagi Zat Tuhan.
Perkataan "Allah", "God", atau "Tuhan" itu baru ada ketika ada makhluk. Nah, ketika pada masa azali, ketika para makhluk belum ada.. ketika hanya Tuhan yang ADA, siapa yang memanggil "Allah", "God", atau "Tuhan"?! tidak ada 'kan?! Ini sebabnya para muwwahid mengatakan Tuhan Pribadi itu hakikatnya sebagai "Yang Tak Bernama".

Meski demikian Tuhan Pribadi juga di Quran memerintahkan para makhluk untuk menyebut-Nya "ALLAH". Ini berarti Tuhan Menamai Diri-Nya Sendiri dengan kata "ALLAH". Ini juga agar para hamba tidak bingung ketika hendak menyebut Nama yang mengacu pada Tuhan Pribadi.

Lalu, bagaimana dengan kalimah tauhid: LAA ILAHA ILLA ALLAH; Tiada Tuhan Selain ALLAH?

Sebenarnya isi postingan di sini sama sekali tidak bertentangan dengan kalimah tauhid tersebut. Sebab, Zat dengan Pencipta Zat itu esa, bukan becerai, tidak terpisah

Maka ketika seorang muslim mengucapkan kalimah tauhid tersebut, atau mengucapkan kata "ALLAH", ada dua kemungkinan penilaiannya di hadirat Allah Swt.
1. Jika muslim tersebut awam akan prinsip tauhid, sebenarnya segala amalnnya, doanya, dan itikadnya baru sampai ke Zat, belum sampai ke Pencipta Zat. (Allahua'lam. Kecuali jika Allah Berkehendak lain.)

2. Jika muslim tersebut mengetahui dan memahami prinsip dasar tauhid sebagai fondasi beriman dan berketuhanan, insyaAllah segala amalnya, doanya, dan itikadnya sampai juga ke Tuhan Pribadi yang Bernama Allah.

Itu sebabnya dikatakan para muwwahid (ulama tauhid, saya bukan ulama):
Jika pengetahuan seseorang hanya sampai ke zat, maka ia hanya sampai kepada zat saja;
Jika pengetahuan seseorang hanya sampai ke nur dan cahaya-cahaya saja, maka ia hanya sampai kepada nur dan cahaya-cahaya saja;
Jika pengetahuan seseorang sampai ke Tuhan, sampailah ia kepada Tuhan;
(http://muxlimo.blogspot.com/2010/11/pemberantasan-buta-hakiki-1.html)

MUXLIMO mengatakan...

Mengapa kita mengenal Allah itu musti sedetail ini?

1. Bukankah ada perintah pertama Allah di wahyu pertama, di ayat pertama: "Iqra."
2. Ada hadis Qudsi yang kembali mengingatkan para hamba tentang "Iqra":
"Jangan kausembah Zat-Ku, Sifat-Ku, Asma-Ku, Af'al-Ku, tetapi sembahlah Aku."

Bagaimana dengan hadis ini, apakah bertentangan?
‘Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya.

Tidak bertentangan, sebab kita tahu Nur Muhammad dengan Nur Allah itu esa, bukan terpisah.

Demikian yang bisa saya sampaikan, lebih-kurangnya mohon dimaafkan. Ada pun setiap tulisan di label "Di sama tengah hati" itu aslinya dari guru tauhid saya. Ini semua dipublikasi semata-mata mencoba mengamalkan isi hadis "belum sempurna iman seorang muslim sebelum ia menginginkan kebaikan sebagaimana ia inginkan untuk dirinya sendiri."

Jadi, tarbiyah pemahaman tauhid bagi umat sebenarnya adalah tanggung jawab para ulama, meski kita para umat kelas awam juga mesti tetap berusaha ber-iqra dengan bimbingan ulama (http://muxlimo.blogspot.com/2011/12/dua-hal-utama-yang-dilalaikan-ulama.html).

Allahua'lam. :-)

sobat dekat mengatakan...

Makasih atas penjelasannya yang mas Mox uraikan diatas sehingga saya sedikit makin paham dengan pemahaman tauhid ini. Hanya saja mas Mox masih ada yang belum jelas pemahaman saya dimana tulisan diata mengatakan bahwa:
1. Tuhan Pribadi juga di Quran memerintahkan para makhluk untuk menyebut-Nya "ALLAH". Ini berarti Tuhan Menamai Diri-Nya Sendiri dengan kata "ALLAH". Ini juga agar para hamba tidak bingung ketika hendak menyebut Nama yang mengacu pada Tuhan Pribadi.
Jadi apakah kata ALLAH ini juga yang Tuhan pribadi menamakan dirinya ? berarti sama dengan nama Zat-Nya ?
2. Jika muslim tersebut mengetahui dan memahami prinsip dasar tauhid sebagai fondasi beriman dan berketuhanan, insyaAllah segala amalnya, doanya, dan itikadnya sampai juga ke Tuhan Pribadi yang Bernama Allah.
Jadi apakah Tuhan pribadi yang bernama ALLAH ? berarti sama juga dengan nama Zatnya ?
3. ‘Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya.
Jadi apakah makhluk yang pertama ALLAH ciptakan adalah cahaya nabi yang diciptakan dari cahaya-Nya yang benama ALLAH, berarti menurut pemahaman saya (yang kurang paham ini dan tolong dipahamkan) bahwa cahaya nabi yang diciptakan adalah yang kedua setelah Tuhan Pribadi menciptakan ciptaan yang pertama yaitu cahaya – Nya yang bernama ALLAH, kemudian dari pada caha-Nya itulah Tuhan Pribadi menciptakan cahaya Nabi ?? he he bingung nih aku
4. Tidak bertentangan, sebab kita tahu Nur Muhammad dengan Nur Allah itu esa, bukan terpisah.

Jadi yang saya simpulkan disini bahwa Tuhan Pribadi menamakan dirinya ALLAH dan Zat Tuhan itu juga dinamakan ALLAH . Jadi tergantung dari pemahaman Tauhid kita apakah kita mau sampai di Zat Tuhan ataukah kita mau sampai di Tuhan yang sesungguhnya karena semuanya dinamakan ALLAH !!! apakah begitu mas atau bgmn ?? Tlg dijelasin . hehehe maklum mas, kurang paham ...

MUXLIMO mengatakan...

Alhamdulillah,
Ya, maksud uraian saya tepat seperti yang Mas simpulkan itu. :)
bahwa Tuhan Pribadi menamakan dirinya ALLAH dan Zat Tuhan itu (yang disebut juga sebagai Nur Allah yang kemudian terkait dengan Nur Muhammad) juga dinamakan ALLAH . Jadi tergantung dari pemahaman Tauhid kita apakah kita mau sampai di Zat Tuhan ataukah kita mau sampai di Tuhan yang sesungguhnya karena semuanya dinamakan ALLAH.

Nah, ketika Mas Sobat Dekat sudah sampai pada simpulan itu, insyaAllah, Mas sudah sampai pada Tuhan! Selamat. :8:

Sebab, Af'al-Asma-Sifat-dan Zat itu esa satu dengan lainnya.
Karena pada perkataan "ALLAH"-lah terhimpun segenap Af'al-Asma-Sifat dan Zat-Nya.

contoh lain untuk memantapkan kepahaman kita:
Af'al Allah semisal berupa pemberian rezeki bagi para makhluk. <--ini adalah perwujudan dari Sifat Ar-Rahmaan. <-- Sifat Ar-Rahmaan ini juga merupakan salah satu dari Asmaul Husna (Asma/Nama bagi Tuhan). <--ini semua berdiri pada Zat-Nya.

Jadi ketika ada pertanyaan,
Siapa yang Berkelakuan (Af'al) memberi rezeki itu?
Siapa yang Bersifat Rahmaan itu sehingga dipanggil sebagai Ar-Rahmaan?

Jawabnya adalah Zat.

Zat siapa?
Zat Tuhan Pribadi Yang Bernama Allah.

Perlu diketahui juga bahwa yang namanya Zat ini disebut juga Rahasia karena wujudnya juga laysa kamitslihi syaiun, tidak bisa ditafsir. Sedangkan Tuhan Pribadi itu terlebih laysa kamitlishi syaiun (terlebih mustahil untuk ditafsir) karena Tuhan Pribadilah Pencipta Zat yang tidak bisa ditafsir itu.

Dengan pemahaman ini, jelaslah bagi para hamba betapa tiada kuasanya manusia hendak menyamai apalagi mau melebihi-Nya. Bagaimana mungkin mau menyamai Tuhan Pribadi (Allah) sedangkan menafsir Zat-Nya saja sudah tidak mungkin sanggup.

Dengan pemahaman ini, semakin sadar manusia betapa tiada daya dan upaya tanpa kebesertaan-Nya. Laa hawla wa laa quwwata illa bi Allah!

Jadi, Tuhan Pribadi (Allah) Meng-Ada-kan Zat, Sifat, Asma, dan Af'al-Nya itu sebenarnya sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia agar tidak salah menghadapkan kiblat penyembahan. Agar para hamba bisa benar-benar sampai pada Tuhannya. Subhanallah wal hamdulillahi Rabb al alamiin.

Hal ini juga yang Allah Swt. ingatkan pada umat Muhammad Saw. bahwa pada diri manusia itu juga ada pelajaran besar. Bukankah manusia juga berzat, bersifat, bernama, dan berkelakuan?

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar.(Q.S. Fushilaat: 53)

Subhanallah wal hamdulillah wa laa hawla wa laa quwwata illa billah Huwa Allahu Akbar!

Allahua'lam.

Lasrimeja mengatakan...

Mas Muxlimo,

Bisa sedikit penjabarannya, posisi dan martabat Ruh idhofi, Ruhul Quddus, Zat dan Allah dalam satu kesatuan yang disebut manusia insal kamil sehubungan dengan pembahasan diatas.

salam
lasrimeja

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum wr.wb,
mas muxlimo yg bertahuid,
mengenai soal CAHAYA TUHAN YG BERNAMA ALLAH,ada hal yg perlu saya ceritakan sedikit agar menambah pengetahuan kita sedikit.
pada beberapa bulan yg lalu kami diundang untuk jamuan makan oleh sahabat-sahabat muslim dari turky dan diantara mereka ada beberapa muallaf.
setelah kami makan kami duduk.seorang muallaf menanyakan hal bimbingan kedua orang tua kepada anak-anak,pembicaraan ini berlangsung agak lama tetapi sahabat muallaf tersebut belum mendapat jawaban yg memuaskan, sehingga saya berdiri dan meletakkan Alquran di atas meja dan memohon kepada Allah agar memberi jawaban yg tepat.Tiba-tiba alquran terbuka dan para sahabat pada terperanjat, Allah menunjukkan surah an Nuur ayat 34-35. ALLAH MEMBIMBING KEPADA CAHAYANYA SIAPA YANG DIA KEHENDAKI.
Semoga kita selalu ingat kepada Allah.
semoga mas muxlimo bertambah ilmu tahuidnya.

wassalamualaikum wr.wb,
sayyid.

MUXLIMO mengatakan...

Wadawww! :2: Lagi-lagi pertanyaan berat dari Bang Yohan alias Lasrimeja <-- unik nih nicknamenya :8:

Untuk pertanyaan berat seperti ini.. sementara ini saya kutipkan pelajaran tauhid dari Syaikh Siradj di postingan ini:http://muxlimo.blogspot.com/2011/12/ketahuilah-tentang-ruh-qudus.html

Ruh Qudus itu nyawanya ruh kita.
Nyawa kita disebut idhafi dan nyawa ruh idhafi itulah ruh qudus.

Jadi ruh qudus itu nyawanya nyawa.
Ini yang berkuasa pada segala ruh.


InsyaAllah Bang Yohan bisa menyimpulkan sendiri ya?! Sebab saya yakin Abang paham topik dan arah diskusi kita ini, 'kan?! :25:

MUXLIMO mengatakan...

Alaikumsalam w rahmatullahi w barakatuh, Mas Sayyid yang Allah karuniai dengan kedekatan beserta-Nya,

Subhanalllah, tepat sekali petunjuk yang Allah sampaikan melalui Mas Sayyid itu. Hal ini juga yang disampaikan oleh para arif billah masa lalu seperti Syaikh Ibnu Athaillah al-Iskandari dalam Kitab Al-Hikam.

Karena ayat "ALLAH MEMBIMBING KEPADA CAHAYANYA SIAPA YANG DIA KEHENDAKI" inilah kemudian dikatakan kepahaman seorang hamba akan tauhid itu sebagai puncak keberuntungan seorang hamba, sebagaimana sempat juga saya saji ulang di postingan ini: http://muxlimo.blogspot.com/2010/09/puncak-keberuntungan-seorang-hamba.html

Aaamiin tsumma aamiin atas doanya, Mas Sayyid.
Terima kasih banyak atas setiap dukungan dan kawalan Mas selama ini. Semoga Allah karuniai Mas Sayyid dan keluarga dengan kebaikan berlipat ganda. Aamiin.

Salam takzim selalu.

Bang Arbi mengatakan...

Menyimak dengan terkagum2. Hampir aja koprol sambil bilang wow gitchu...tapii sehubungan tansal harus ditahan, ane kembali menyimak dengan terkagum2.

Yo sabana padiah kaji tuangku2 :8:

MUX LIMO mengatakan...

kalo cuma bilang "wow", gratis.. tapi kalo tambah koprol, bayar! :g:

padiah ba'a ko makasuik nyo, 'Da? :-? :D

Bang Arbi mengatakan...

mukasuik ambo...Padiah bana sambalado jo sampadeh dagiang ko. kebetulan awak mambaco diskusi tuangku2 diateh sambil makan...gitu lhoww, Uda kangmux (lho?!...maksudnya Uda Mux)... Uda Mux mau??? berhubung tingga iko bana nan ado, wak sapiriang baduo se lah yooww hihihi :3:

MUXLIMO mengatakan...

Onde mandeeee... rancak banaaaa 'Da Arbi ko.. :17: indak ado dicontohkan nabi do makan sambil baco-baco..

baa ko, 'Da.. nio ambo laporkan ka mantri sunat?? (*ehh??) :g:

Bang Arbi mengatakan...

Itu nan subana nasihat nan ambo dapek dari Uda Mux. memang zaman nabi dulu alun ado blog muxlimo, baa juo caronyo sahabat makan sampadeh dagiang jo sambalado sambil mambaco? Onde mande tuesdayyyyy....tambuah ciek Da...

Darwin Hamdani mengatakan...

Alhamdulillah, ini Bahasannya sudah tinggi sudah memakai rasa untuk menemukan jawaban rahasia :
"Cahaya Diri Tuhan itulah yang bernama Allah, juga bernama Nur, juga bernama Rahasia."

Tambahan mungkin : Kita ini juga Alam...., hanya untuk mengenal-NYA sebenar-benarnya ini yang perlu kita simpan (tahu sendiri) dan hanya dibicarakan sama yang lebih mendalami, kalau tidak ini kenyataan kalimat tertulis bisa jadi fitnah

Salam

Darwin
:g:



MUX LIMO mengatakan...

MasyaAllah! :2: Rupanya... Abang ini... :6: :]

Terima kasih banyak atas pemerlengkapannya, Bang Darwin.. :21:
Iya, Bang.. memang tidak sedikit Sobat Sarang yang mundur teratur ketika tulisan-tulisan di sini mulai sering bicarakan topik hakiki. Bisa jadi karena bahasanya membuat orang 8-} ya?!

Adapun pertimbangan yang kami ambil sebagai berikut:
Kita sekarang sedang memasuki era ke-4 dari 5 era yang dinubuwwahkan Rasulullah dalam hadis mengenai akhir zaman (5 era ini terhitung sejak wafatnya beliau). Kita lihat, tindak-tanduk Trio Laknatullah telah berhasil mengaduk-aduk dunia manusia. Manusia kini sudah hampir tidak bisa lagi membedakan yang haq dan yang bathil.

Ini bisa kita lihat pada kenyataan baik di percaturan politik global, maupun insiden-insiden lokal di dalam negeri.

Fakta Internasional, di antaranya:
- Fitnah WTC/11 September;
- Kekejaman sekaligus kemukatebalan Israhell terhadap umat
Islam, utamanya pada saudara-saudara kita di Palestina;
utamanya proyek penghancuran Masjidil Aqsa dari bawah tanah;
- Pembakaran Quran; <-- kaum toleran tak malu lagi membongkar
kemunafikannya sendiri;
- Fitnah kaum liberalis, humanis, feminis yang mengaku "Islam";
- Pembantaian suku muslim Uighur di Cina;
- Pembantaian muslim Rohingya di Myanmar;
- Makar perusakan 95% lebih situs-situs bersejarah Islam oleh
Dinasti Zion Saudi;
- Sandiwara AS-Iran;
- dan banyak lagi.. Allahua'lam.

Fakta Lokal:
- Nestapa Siami (Kasus UAN 2011), yang jujur malah digusur dan
diusir;
- Fitnah JIL, Wahid Institute, Faithfreedom, Kejawenisme;
- Fitnah Ahmadiyyah; juga perang Sunni-Syiah;
- Fitnah Terorisme lokal;
- Adu domba kekuatan Islam Asia Tenggara: Indonesia-Malaysia;
- Liberalisasi, sinkretisasi, dan sekularisasi yang tak tahu malu;
dilakukan pemerintah dan oknum-oknum cendekiawan, bahkan ulama
secara terbuka;
- Peyahudian cara berislam umat oleh agen-agen zion yang mengaku
sebagai salafy-wahabi, ahlu sunnah wa aljamaah, atau salafus
sholeh; <-- dengan sokongan dana luar biasa dari jazirah;
- Munculnya ulama-ulama setan yang mengajarkan umat astral
projection, melukis jin, membiarkan fitnah indigo-isme;
- dan banyak lagi, Allahua'lam.

Dari sini kami berpandangan, jika kebathilan sudah dilakukan secara terbuka, ini pertanda bahwa sudah waktunya kebenaran hakiki dibuka juga untuk mengimbangi dan meyakinkan umat yang mulai ragu. Tentu ini pun dalam naungan kalimah "Laa hawla wa laa quwwata illa billah", ya Bang..

Kurang-lebihnya, mohon dimaafkan. :21: btw, senang diperjumpakan dengan arif billah lainnya di seberang sana. Salam ukhuwwah fillah, Bang Darwin. :25:

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

saya ingin mengajukan satu pertanyaan !
" mengapa Nabi Yunus selama di dalam perut ikan nun dzikirnya Lailahaillah anta "
apakah ini menunjukkan bahwa sebenarnya Allah beserta dia atau di dalam diri dia"

terima kasih

MUXLIMO mengatakan...

Di dalam ilmu dan praktik tauhid ada ketetapan seperti ini:
Setiap makhluk sejak Ahadiat esa beserta Allah. Ada di dalam ilmullah. Makhluk "masuk" ke Allah, halal karena Allah Maha Meliputi segalanya. Tapi Allah "masuk" ke makhluk, haram.

Jadi, yang sesuai dengan tauhid adalah prinsip kebesertaan.

Bang Arbi mengatakan...

trus maksud Ana Sirruhu itu gimana kang?

Anonim mengatakan...

ohh.. ghitu yaa...!!
berarti tepat doong prinsip ketauhidan Nabi Yunus as. trus konsep berdoa yang tepat menurut ilmu tauhid yang benar gimana doong..? maksudnya di dalam doa kita menempatkan Allah ?

MUXLIMO mengatakan...

Ana siruhu = Aku Rahasiamu = Aku Rahasia pada dirimu
artinya, yang ada pada diri kita ini Rahasia Allah, bukan Allah Pribadi 'kan?! meski demikian, yang paling "dekat" dengan Allah itu ya.. Rahasia. :]

MUXLIMO mengatakan...

Prinsip ketauhidan nabi mana pun pasti tepat, Mas yang bikin tidak akurat itu 'kan umat yang salah memahami prinsip tauhid tadi.

Mengapa dikatakan kalau "Allah masuk ke makhluk itu haram"? sebab yang bertauhid dengan benar pasti akan mengatakan: Allah tidak keluar-masuk. Yang keluar-masuk itu sesuatu (makhluk), sedangkan Allah BUKAN sesuatu. Jangan dilupakan "laysa kamitslihi syai'un" :D

"Menempatkan" Allah dalam ibadah:
hadis Rasulullah Saw.:"Salatlah kamu seolah-olah kamu bisa memandang Allah. Jika kamu tidak bisa, yakinkan bahwa Allah memandangmu."

InsysAllah boleh kita iqra hadis tersebut seperti ini:
Hanya para ahlul kasyaf yang ketika shalat bisa memandang Allah (ru'yatullah).

Nah, kalau kita belum tergolong ahlul kasyaf:
Pertama, memandang Allah bukan dengan mata kasar juga bukan dengan mata batin <-- ini mah untuk liat jin dan temen-temennya ya 'kan, Mas?!

Kedua, meyakini Allah memandang kita tentu bukan dengan anggapan Allah memandang sebagai mana makhluk memandang (Allah memandang gak pake bola mata; gak pake matahati, gak pake mata batin, dll. Dari mana saya yakin? "laysa kamitslihi syaiun" jangan dilupakan. :D )

Nah, setelah kita ketahui juga bahwa memandang Allah tidak sahih bila menggunakan pikiran dan perasaan (<-- karena pikiran dan perasaan digunakan manusia untuk memandang segala sesuatu), maka yang sesuai dengan petunjuk dalil adalah memandang Allah dengan mendiamkan pikiran dan perasaan. Tapi bukan dengan mengosong-kosongkan pikiran ya, Mas..

"Man arafakallaha kalla lisanuhu." :)

Alwi Dahong mengatakan...

mantap mantap http://lh4.googleusercontent.com/-esPfNBJOoTo/UHWB9xMnrWI/AAAAAAAAGKU/LE77KoCx-Fs/s18/kupi-nanas.gif
pejelasan penjelasan abang sangat dtail http://lh6.googleusercontent.com/-SWUW-n_lVgg/UFV7EJFYKsI/AAAAAAAAFhA/p0V4ThCWNOU/s128/jempols.gif

Bang Arbi mengatakan...

http://lh4.googleusercontent.com/-dWjINDFQ-TM/UFV7H6jjDrI/AAAAAAAAFh0/ssPyjh3EsRI/h120/muahaha.gif iya kang...rahasia http://lh5.googleusercontent.com/-57zb5vkszD4/TXD1QNnYdeI/AAAAAAAAAg4/f2Wihu9IXpU/s1600/gosip.gif

MUXLIMO mengatakan...

Alhamdu lillaah... Wet! :8: ~O) *srupuuuut :D

MUXLIMO mengatakan...

wkwkwkwk itu mah ngegosiiiiippp!! :17:

salilla xan mengatakan...

alhamdulillah...ktemu yg ini.
trm ksh bwt mb an!nisa ...yg ni agak cpt msuk ke otak sy. :8:

Devi hendra mengatakan...

Subhanallah segala puji bagi allah. Terima kasih bang mux saya benar benar tercerahkan. Berarti kebesaran allah lah yang menyebut akan diri nya pribadi

MUXLIMO mengatakan...

Alhamdulillah, sama-sama Mas Hendra :)

PUTERA LAUT SUMATERA TIMUR mengatakan...

" Memandang Allah dengan mendiamkan pikiran dan perasaan. Tapi bukan dengan mengosong-kosongkan pikiran ".~ By Bg Adam Mux.

Alhamdulillah, Tksh Bg. Mux. The Best Mantap !

Mas Agus mengatakan...

Penjelasan Kang Mux ..Mantappp ...

Raden Mangto mengatakan...

subhanallah.....tap ...mantap. top markotop.semoga kita diberi kemudahan dlm memahami dan meyakini amin. lanjut kakang

 

Ikuti kabar terbaru via e-mail

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism