burnzone

AD (728x60)

Ilmu Zikir dan Salat yang Tidak Dimiliki Ulama

"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tampilan terbaik laman ini pada peramban Chrome.

Khusus pengguna perangkat mobile: Apabila ada artikel yang tampilannya terpotong, silakan baca dalam mode landscape. Apabila masih terpotong, artinya artikel tersebut hanya nyaman dibaca via laptop atau PC. Harap maklum.
landscape mode.
HTML5 Warisan Nabi



Artikel ini merupakan tindak lanjut atas rangkaian status facebook di bawah ini, makanya tulisan ini panjang bak selendang mayang terurai dari batas kota sampai sudut dapur. Jadi sabar yah.  Rasulullahﷺ bersabda, "Jika engkau menginginkan sesuatu perkara, maka pelan-pelanlah (tenanglah), hingga Allahﷻ akan menunjukkan padamu jalan keluarnya." (H.R. Bukhari)









Yang diurai di bawah ini bukan ilmu grand-grand mufti, bukan ilmu syaikh-syaikh, bukan ilmu kiyai-kiyai, bukan ilmu ustaz-ustaz, bukan ilmu habib-habib, bukan ilmu maulana-maulana, bukan ilmu hazrat-hazrat, bukan ilmu buya-buya, bukan ilmu datuk-datuk, bukan ilmu tuan-tuan guru, bukan ilmu gus-gus, bukan ilmu embah-embah, bukan ilmu eyang-eyang, bukan ilmu ki-ki, bukan ilmu sufi-sufi, bukan ilmu tarikat-tarikat, bukan ilmu dari mereka yang bukan nabi. Percaya, Alhamdulillah. Tidak percaya, Alhamdulillah.



Salat itu ibadah utama. Zikir itu ruhnya. Rusak zikirnya, hancur salatnya. Benar zikirnya, sahih salatnya: diskon hisab hadiahnya.


Salat itu ibadah utama.

Amal yang pertama kali dihisab itu salat. Bagus hisab salatnya, baguslah pula hisab seluruh amal lainnya. Bagus hisab salatnya, tanpa hisablah ibadah lainnya.

Mengapa salat itu ibadah yang utama?
karena dalam salatlah keesaan ultimat antara ruh, nafs, dan jasad terjadi. Ruh, nafs, dan jasad beribadah secara bersamaan-besertaan. Itu makanya dalam salat ada rukun qalbi (hadir hati), rukun qauli (bacaan), dan rukun fi'li.
○ rukun qalbi itu pekerjaan ruh
○ rukun qauli itu pekerjaan nafs
○ rukun fi'li itu pekerjaan jasad
Kalau ketiga ini sudah esa, maka esalah zahir-batin kita beserta Allah; billāhi.

karena salat itu hakikatnya berlatih mati.
Apa isyarat bahwa salat itu berlatih mati?
Akhirul kalam Rasulullah Saw. tercinta: “Ummati... ṣalli.”

Dalil mati itu sakit, ada. Dalil mati itu tidak sakit juga ada. Tinggal pilih mau yang mana.

Kedudukan Zikir: ruhnya salat

Adapun ruh salat itu li-zikri, yaitu dengan mengingat (Allah) (Q.S. Tāhā :14).
Mengingat Allah itu dianjurkan dalam setiap keadaan (berbaring, duduk, berdiri) dan berkekalan setiap waktu (dalam bahasa Quran "dari pagi hingga petang").

Zikr itu artinya mengingat, bukan menyebut-sebut, bukan membaca-baca, bukan bernapas-napas. ← yang terakhir ini yang paling jauh menyimpang dari makna zikr.

Adapun untuk membantu jasad mengingat, disyariatkanlah mewiridkan puji-pujian kepada Allahﷻ. Namun, tetaplah prinsip zikir itu mengingat, bukan menyebut-sebut, bukan membaca-baca.


Hakikat Zikir

Zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu. "Man arafallaha kalla lisanuhu", siapa mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan, kelu lidahnya. (hadis ini tercantum dalam Kitab Ad-Durunnafis yang ditulis oleh Syaikh M. Nafis Bin Idris al-Banjari ).

Mulut kita berucap "Laa ilaaha illallah". Dari mana munculnya perkataan ini? Dari hati. "Laa ilaaha illalah" yang dari hati ini dari mana asalnya? Dari sirr hati. Yang dari sirr hati ini dari mana? Tentulah dari dalam sirr. Yang di dalam sirr itu siapa? Rahasia Allah.
Syariatnya, kita berzikir.
Makrifatnya, Rahasia Allah itulah yang berzikir atau yang di dalam sirr itulah yang berzikir.
[Ingat, "yang di dalam sirr" bukan sirr. Orang tasawwuf memandang sirr inilah yang dituju dalam zikir sirri. Padahal yang dimaksud ialah "wa fi sirri Ana" sebagaimana dalam bunyi hadis qudsynya]

Jadi kalau kita cermati, siapa yang sebenarnya berzikir itu?
Syariatnya → kita berzikir
Makrifatnya → Yang Punya Zikir Berzikir
Perkataan ini bukan hendak menjadikan kita adalah Allah atau setara dengan Alah, melainkan kita meyakinkan Rahasia Allah/Zat Allah itulah Diri Allah, bukan kita adalah Allah.
Kesimpulan kata: Rahasia Allah/Zat Allah itulah yang memuji Tuhannya.

Kalau belum tahu bahwa yang di dalam sirr ini berzikir, bagaimana Anda akan karam dalam zikir? Paling-paling Anda hanya dapat karam dalam sebutan zikir saja.
[Subbahasan Hakikat Zikir di atas saya kutip dari uraian Alm. K.H. Undang Sirad pada Jalan Zikir yang Sampai ke Tuhan.]


Hanya Ada 2 Jenis Zikir:
Zikir Jahri (Nyata) dan Zikir Khafi (Tersembunyi)

Sebaik-baik zikir adalah zikir dengan samar dan sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang mencukupi, Nabiﷺ juga bersabda, “Zikir yang tidak terdengar oleh malaikat pencatat amal  mengungguli atas zikir yang dapat didengar oleh mereka sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (H.R. Baihaqi)


Syariatnya → kita berzikir (jasad melalui mulut dan nafs melalui hati sanubari) → zikir jahri
Makrifatnya → Rahasia Allah (ruh atau hati rabbani) itulah yang berzikir → zikir khafi


1. Zikir Jahri (Zikir Hurufiyah)
Syariatnya → kita berzikir (jasad melalui mulut dan nafs melalui hati sanubari) → zikir jahri

Mewiridkan puji-pujian kepada Allahﷻ dengan lisan atau dalam hati.  Zikir ini masih berhuruf (hurufiyah), bersuara, dan berbentuk. Zikir jahri ini zikir yang dilakukan oleh nafs dan jasad. Bisa dikatakan zikir jahri ini baru zikir qauli dan fi'li. Mulut atau hati mengucap, jemari tangan menghitung jumlah.

Jadi menyebut-sebut bacaan zikir "subhanalah" di dalam hati itu masih tergolong zikir jahri karena masih berhuruf, bersuara, dan berbentuk. Suara hati sanubari masih bisa didengar malaikat. Masih terdeteksi oleh malaikat.

Zikir jahri ini ada kelemahannya, yaitu baru zikir level jasad dan nafs. Jadi daya tahan kita berzikir bergantung pada stamina jasad. Kita tidak bisa berkekalan mengingat Allah setiap waktu (nonstop) dalam keseharian . Ketika kita sedang berbicara, kita tidak bisa mewiridkan puji-pujian dalam hati [tidak percaya? Coba saja sekarang juga. :D ]. Ketika sedang tidur, kita tidak bisa mewiridkan puji-pujian [belum pernah ada orang dalam tidurnya mengigau “subhanallaah...subhanallaah..subhanallaah” sepanjang malam sampai terbangunnya :D].


2. Zikir Khafi (Zikir Kamaliyah)
Makrifatnya → Rahasia Allah (ruh atau hati rabbani) itulah yang berzikir → zikir khafi
Zikir Khafi ialah zikir yang tersembunyi; tidak terdeteksi oleh malaikat pencatat amal karena zikir ini tidak berupa huruf, tidak bersuara, dan tidak berbentuk. Ada juga yang menyebut zikir khafi ini sebagai zikir sirri atau zikir rahasia. Disebut zikir rahasia maksudnya bukan zikir yang tidak boleh diketahui umum, melainkan karena itu tadi, zikir ini tidak berhuruf, tidak bersuara, dan tidak berbentuk.

Maksudnya bagaimana sih zikir yang tidak berhuruf, tidak bersuara, dan tidak berbentuk itu?
Ingat lagi makna kata zikr itu apa? Yup, makna kata zikr itu mengingat.
Mengingat siapa? Mengingat Allahﷻ.
Allahitu bagaimana bentuknya? Laisa kamilihi sya`un (Q.S. Asy-Syura:11), 'tidak sama dengan segala sesuatu.

Allah bukan berupa huruf alif-lam-lam-ha. Alif-lam-lam-ha itu rangkaian huruf pembentuk Nama-Nya, bukan Diri Allah-nya Sendiri. Lafaz sebutan "Allaah" itu hanya Nama Tuhan yang disuarakan, bukan Diri Allah itu berupa suara. Allah juga tidak berbentuk karena justru Allah itu Pencipta segala bentuk. Maka setiap yang memiliki bentuk, pasti makhluk. Setiap yang memiliki bentuk, bukan Tuhan!

Ketika mengingat sesuatu/makhluk/orang, kita ingat akan bentuk (wajahnya) atau kesan tentang orang itu. Ketika mengingat sesuatu/makhluk/orang, kita pakai pikiran dan/atau perasaan.

Ketika mengingat Allah yang tidak sama dengan segala sesuatu bagaimana? Diamkan nafs dengan cara: mendiamkan pikiran dan perasaan. Karena setiap yang bisa dipikir dan bisa dirasa pasti makhluk, bukan Tuhan.

Bagaimana cara mendiamkan pikiran dan perasaan itu? Ya jangan ada yang dipikir-pikir dan jangan ada yang dirasa-rasa ketika beribadah. Beribadah ya beribadah saja, tapi ketika melakukannya, pikiran dan perasaan jangan jalan-jalan ke mana-mana. Diamkan. Itulah artinya kamu sebenar-benar mengingat Allah. Itulah praktik sebenar-benar zikrullahAs simple as that!


يُرِيدُ ٱللَّهُ بِڪُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِڪُمُ ٱلۡعُسۡرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.(Q.S. Al-Baqarah [2]:185)

Zikir khafi ini disebut juga zikir kamaliyah, artinya zikir yang sempurna. Dikatakan zikir yang sempurna karena itu tadi, zikir yang akurat dalam mengingat Allah yang takbisa ditafsir itu ya hanya bisa dengan diam.

Zikir khafi ini disebut juga zikir kamaliyah, artinya zikir yang sempurna. Dikatakan zikir yang sempurna karena zikir ini tidak berhuruf, tidak bersuara, dan tidak berbentuk.

Yang namanya diam,
Adakah berupa huruf? Bukan.
Adakah suaranya? Kalau bersuara, bukan diam namanya 'kan?!
Adakah diam itu berbentuk? Tidak ada.

Zikir inilah yang bisa tetap berkekalan setiap waktu. setiap detik, bahkan ketika kita sedang tidur, bekerja, berbicara, dan  melakukan apa pun yang tidak melanggar syara` dalam keseharian kita: 24 jam nonstop berkekalan (da`im) beserta Allah.

Zikir khafi dengan cara mendiamkan pikiran dan perasaan inilah yang bisa tetap berkekalan setiap waktu. setiap detik, bahkan ketika kita sedang tidur, bukan dengan zikir napas!

Bukti zikir napas itu bukan zikir yang sahih dan bukan zikir yang berkekalan:

  •  Ingat, zikr itu artinya mengingat, bukan bernapas. Mengingat dan bernapas itu dua aktivitas yang berbeda. Tidak bisa zikir dijadikan napas atau napas dijadikan zikir. tidak ada sandarannya sama sekali. Zikir dan ritual ibadah lainnya dalam Islam tidak ada yang disangkut-pautkan dengan mengatur napas. Camkan itu.
  • Memang benar ketika kita tidur, aktivitas benapas jalan terus. Masalahnya, apakah ketika kamu menghirup udara dalam tidur, kamu mewiridkan "Huuuu" lalu ketika menghembuskan napas sambil mewiridkan "Allaah"??  Kalau kamu jawab bisa, berarti kamu belum tidur. Hehe. Gotcha! Jangankan sadar menarik-hembuskan napas, ketika tidur kita itu merasa ada-diri saja tidak. Kalau kamu jawab ketika tidur kamu merasakan ada diri, berarti kamu belum tidur. Hehe Gotcha lagi!
  • Kalau hanya para pengamal zikir napas saja yang bernapas selama tidur [dan yang bukan pengamal zikir napas tidak bernapas dalam tidur], baru agak masuk akal bahwa yang namanya berzikir itu bisa diwakilkan pada aktivitas bernapas dan baru agak masuk akal bahwa zikir napas itu zikir yang berkekalan tiap detik. :D


Zikir khafi inilah yang sebenarnya menjadi rukun qalbi dalam setiap ritual ibadah Islam. Ibadah apa pun, tetap rukun qalbi-nya: diam. Diam di sini maksudnya mendiamkan batin (pikiran dan perasaan), bukan mendiamkan jasad mematung. yang model ini namanya diam berhala.

Zikir khafi inilah yang sebenarnya menjadi rukun qalbi dalam setiap ritual ibadah Islam. Mengapa selama ini ulama tidak menyampaikan seperti ini? Karena ulama sendiri tidak tahu. Mengapa ulama sampai tidak tahu? Karena ilmu ruhaninya terputus. Sanad ilmu jasmaninya (teori syariat) boleh saja bersambung sampai ke Rasulullah, tetapi ilmu ruhaninya (praktik amalan hati) terputus.

Dua Jenis Zikir ini Sebenarnya Satu Paket

Bukti keterputusan ilmu para ulama masa kini itu terbukti dari pemisahan dua jenis zikir yang sebenarnya satu paket. Satu paket bagaimana? Maksudnya, ketika kita melaksanakan zikir jahar, pada saat itu juga kita lakukan zikir khafi. Ketika lisan menyuarakan bacaan zikir dan jemari tangan menghitung (jahar), pada saat yang bersamaan kita mendiamkan pikiran dan perasaan (khafi).  ← musti seperti ini dan hanya dengan seperti ini zikir kita terhisab sebagai sebuah amal ibadah, baik dilakukan sendirian maupun secara berjamaah.

Jalan praktik zikir satu paket itu bagaimana?
Ingat selalu bahwa kita ini keesaan dari tiga diri
  1. jasad, sifat fitrahnya bergerak;
  2. nafs (hati sanubari: pikiran dan perasaan), sifat fitrahnya juga bergerak;
  3. ruh, (hati rabbani), sifat fitrahnya diam sediam-diamnya.
Kunci khusyuk ibadah itu ada pada nafs, yaitu kita mendiamkan pikiran dan perasaan. Kalau kita mendiamkan nafs, otomatis jasad kita selaras dengan ruh meskipun jasad kita bergerak-gerak. Artinya ketika itu jasad kita sudah digerakkan oleh ruh (Rahasia Allah) langsung, bukan lagi digerakan oleh nafsu.

Jadi,
  • kalau kita berzikir jahri disuarakan dengan lisan: mulut mengucap bacaan zikir, di hati jangan menerjemahkan bacaan Arabnya. 
  • kalau kita berzikir jahri di dalam hati: hati sekadar mengucap bacaan zikir tanpa ada yang dipikir-pikir dan tanpa ada yang dirasa-rasa. 
Bila demikian, barulah zikir jahri kita selaras dengan zikir khafi yang memang bersifat diam sediam-diamnya. Inilah maksud kedua jenis zikir itu satu paket dalam pelaksanaannya.

Definisi iman menurut jumhur ulama (lagi):

 تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ.
“Membenarkan dengan hati (qalbi), mengikrarkan dengan lisan (qauli) dan mengamalkan dengan anggota badan (fi`li).”

Jadi kalau zikir hanya di lisan dan di hitungan jemari tangan, lengkap tidak syarat imannya? Jawab sendiri.

Apa buktinya kalau zikir jahar tidak disertai zikir khafi itu hilang nilai ibadahnya? 
  • Bukankah banyak yang berzikir-zikir dengan instruksi memejamkan mata sambil membayang-bayangkan wajah mursyid? Kamu itu mau zikrullah atau zikrulmursyid sih? Tunjukkan dalilnya kalau membayangkan wajah mursyid ketika berzikir itu = zikrullah
  • Bukankah banyak yang berzikir-zikir lalu timbul kelainan jiwa seperti mendadak takut atau mendadak menangis setiap dengar orang berkata “Allah”. Tunjukkan dalilnya kalau paranoia takjelas seperti itu diganjar dengan pahala. Mana ada :D Yang ada dalilnya itu “hanya dengan mengingat Allah jiwamu menjadi tenteram”, bukan jadi sèdèng!
  • Bukankah banyak yang berzikir-zikir lalu lengah kesadaran lalu merasakan sensasi ‘melayang’ atau trance, bahkan sampai hilang kesadaran sama sekali alias kesurupan? Tunjukkan dalilnya kalau trance atau kesurupan itu diganjar dengan pahala. Mana ada :D Yang ada dalilnya itu “hanya dengan mengingat Allah jiwamu menjadi tenteram”, bukan jadi oleng atau kemasukan jin!
  • Bukankah banyak yang berzikir-zikir lalu timbul halusinasi, terpandang ini-itu yang gaib: kalau tidak jin, ya alamnya jin yang terpandang. Apakah itu maksud dan tujuan zikirmu? Kalau ketemu dengan makhluk lagi, bukan zikrullah namanya.

Kok bisa sih orang berzikir lalu timbul halusinasi atau terpandang ini-itu yang aneh-aneh?
Ya karena rukun qalbinya tidak dilakukan dengan benar seperti fenomena cara berzikir di atas tadi. Perihal bisa sampai terpandang ini-itu atau sampai kesurupan segala, begini ceritanya. Seperti pernah dimuat dalam status terdahulu bahwa  menyebut-sebut berkali-kali Asma/Sifat Allah dengan menyebut-sebut berulang-ulang nama/sifat makhluk itu secara teknis tidak ada perbedaan sama sekali.

Mewiridkan "Subhaanallaah" 1000x dengan mewiridkan "si adam bajingan" 1000x secara teknis sama sekali tidak ada bedanya, yaitu memanfaatkan artikulator [lidah] dan titik-titik artikulasi [langit-langit mulut, bibir, dan gigi] ← soal ini ahli bahasa, khususnya bidang fonetik, tahu persis.

Mewiridkan "Subhaanallaah" 1000x dengan mewiridkan "si adam bajingan" 1000x secara teknis hanya terhitung sebagai “olahraga vokal”.

Sekarang, mari kita bahas fisiologi manusia dulu. Fisiologi manusia adalah ilmu mekanis, fisik, dan biokimia fungsi manusia yang sehat, organ-organ mereka, dan sel-sel yang mereka tersusun.[Wikipedia].

Pada manusia ada yang disebut suhu tubuh. Kita pakai bahasa orang awam saja: suhu tubuh itu dihasilkan dari hasil pembakaran makanan di lambung yang lalu diedarkan melalui darah yang dipompakan jantung ke seluruh tubuh. Jadi, kita tidak bergerak saja, jasad kita sudah panas. Panas dari proses penguraian makanan di lambung, panas dari aktivitas jantung berdegup, dan  panas dari gesekan sel-sel darah dengan cairan pada dinding pembuluh darah. Panas ini juga yang bisa disensor menjadi sebentuk aura tubuh.

Kita tidak bergerak saja, jasad kita sudah panas. Apalagi jika ditambah dengan olahraga vokal berupa berzikir-zikir di mulut. Lidah naik-turun, ditarik dan dijulur, menyentuh gigi atau langit-langit mulut, sambil mulut kadang dibulatkan, dilebarkan, atau dikatupkan, tentu menghasilkan panas yang lebih. Apalagi jika ini dilakukan dalam waktu lama. Pasti panas. Dari panas inilah timbul fatamorgana.


Panas menimbulkan fatamorgana
[Gambar kiri] Pandangan menjadi berbayang akibat pemuaian udara di sekitar sumber panas.  [Gambar Kanan] Hawa panas menimbulkan fatamorgana sehingga aspal kering seolah basah oleh genangan air.


Gambar di atas menunjukkan panas tinggi menimbulkan fatamorgana. Bagaimana lagi jika jasad kita sendiri yang menjadi sumber panas itu? Badan kita panas, lidah dan mulut panas, otot dan syaraf-syaraf mata juga pedas, otak juga ikutan hot. Jarak mulut dengan bola mata itu dekat. Sumber panas di bawah [mulut], arah pemuaian ke atas [mata]. Ibarat ada knalpot menyala di dekat mata.

Jarak sumber panas dengan alat pandang amat dekat. Sama-sama panas lagi. Bagaimana tidak timbul fatamorgana? Bagaimana tidak kolaps kesadaran kita dibuatnya? Kalau sudah panas, tinggal tunggu saja teperciknya api. Teperciknya api ini dalam zikir terjadi di saat kita membaca bacaan zikir, tetapi pikiran dan perasaan kita tidak diam, malah jalan ke mana-mana. Lebih parahnya lagi, justru banyak orang yang berzikir-zikir memang tujuannya ingin bisa memandang yang gaib-gaib. Dari niatnya saja sudah salah tuh!

Jin-setan-Iblis itu diciptakan dari api yang tidak berasap. Memang wujud api jin dengan wujud api dunia itu berbeda. Tapi benang merahnya ada di “panas”.

Ketika kesadaran hilang, portal pintu setan masuk ke jasad  terbuka lebar. Pandangan kita diambil-alih dan terganti dengan pandangan jin-setan!

Tapi Dam, aku sering berzikir lama-lama tapi tidak sampai hilang kesadaran, tidak timbul fatamorgana, apalagi sampai kesurupan, tidak sama sekali. Setiap habis zikir badan malah segar dan hati rasanya lapang. Bagaimana tuh?
Ya, yang begitu disebutnya olahraga vokal juga. Kalau kita habis jogging lalu beristirahat lalu mandi lalu kita duduk santai di teras rumah, badan juga terasa bugar dan hati rasanya lapang-tenteram. Itu baru nikmat jasad tenteram selepas berolah raga, belum nikmat iman hasil beribadah. Apa bedanya aktivitas berzikir kamu dengan jogging?  :D

Definisi iman menurut jumhur ulama (lagi):

 تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ.
“Membenarkan dengan hati (qalbi), mengikrarkan dengan lisan (qauli) dan mengamalkan dengan anggota badan (fi`li).”

Di mulut kamu berkata “Allah”; di hati kamu ada tidak Allah itu?
  • Kalau di mulut berkata “Allah”, di hati kamu adanya “alif-lam-lam-ha” : batal. Tidak  ada Allah di hatimu. Di mulut ada, di hati tidak ada ← pendusta. [man abdal Asma faqad kafar]
  • Kalau di mulut berkata “Subhanallah”, di hati kamu adanya  makna “Mahasuci Allah” : batal. Tidak  ada Allah di hatimu. Di mulut ada, di hati tidak ada ← pendusta. [man abdal ma`na fa huwa munafiqun]

Begitulah jadinya kalau hanya jasad saja yang berzikir-zikir, sedangkan ruh diabaikan. Begitulah jadinya zikir tanpa rukun qalbi. Itulah berzikir tanpa ilmu.

Lebih menyedihkan lagi jika kita ingat betapa zikrullah itu ruhnya salat. Kalau selama ini zikir kita nilainya amburadul, macam mana lagi nilai salat kita? Bagaimana pula kesiapan kita menghadapi mati jika salat itu juga hakikatnya berlatih mati? Sudah berapa belas atau puluh tahun zikir dan salat kita seperti itu? Cita-cita masuk surga tanpa hisab pula? [Silakan menangis kalau mau meleleh. Jangan ditahan-tahan. Toh si adam ini gak punya ilmu menerawang, jadi gakkan bisa ngintip kamu lagi mewek bombay, wahai `Abid ahli zikir.] Bersyukur Allah itu bersifat Maha Pengasih-Penyayang.


Terkait dengan judul tulisan, banyak ulama yang mengajarkan

  • zikir “Hu-Allah” ← ini men-Dia-kan, Allah. ← ada pihak lain antara diri dan Allah, masih bersekutu, belum esa.
  • niat “Ilahi Anta maqsudi”; masih ada aku dan Engkau ← masih becerai, belum esa.
  • pahaman “syuhudul wahdah fil kasrah, syuhudul kasrah fil wahdah” alias pandang satu pada yang banyak; pandang banyak pada yang satu ← masih ada dualisme, belum esa.

Bukti sekunder bahwa ini bukan ilmu dari kelas umat:
Yang  disebut esa itu, syuhudul wahdah fil wahdah, ‘pandang Satu kepada Yang Satu.’ ← silakan coba keyword ini di pencarian mbah gugel, siapa yang akan Anda jumpai.

Terkait dengan judul tulisan,
Terputusnya sanad ilmu hakiki para ulama itu akibat kelalaian ulama sendiri. Dikiranya Nabi Muhammadﷺ sudah wafat itu artinya binasa. Dikiranya berjumpa Nabi Khidr a.s. itu mudah. Dikiranya setelah diperjumpakan dengan Nabi Khidr a.s. itu mereka tidak diuji. Banyak yang mengaku-aku dapat ilmu dan amal dari Nabi Khidr a.s., tapi yang benar-benar dipertemukan bisa mendeteksi para pembual itu.

Begini ceritanya,
Transfer ilmu hikmah itu ibarat sekolah unggulan dalam Islam. Ibarat kata, sekolah itu bernama khawasul khawwas (khusus di dalam khusus). Pemilik sekolah itu Allahﷻ, kepala sekolahnya Nabi Muhammadﷺ; guru pembimbing sekaligus pengujinya Nabi Khidr a.s. Namanya sekolah unggulan, tentu isinya bukan siswa-siswa sembarangan. Namanya sekolah unggulan, tentu soal ujiannya juga bukan yang biasa-biasa.

Sebagaimana sekolah pada umumnya, pada hakikatnya diri siswa sendiri yang memberi nilai. Guru itu tugasnya hanya menguji dan menghitungkan hasil jawaban siswa.

Ada orang salih yang ketika diperjumpakan dengan Nabi Khidr a.s., begitu senang hatinya seperti anak kecil dapat mainan paling bagus dan paling mahal. Lalu karena euforianya, ia begitu bersemangat-antusias dan banyak bertanya tentang ini-tentang itu rahasia-rahasia ilmu Allah, meminta amalan ini-itu. Akhirnya diberilah oleh Nabi Khidr a.s. apa yang dimintanya itu atas izin Allah. Hadis qudsy “Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku” dalam kasus ini jadi bermakna what you get is what you want. Kaudapat yang kaumau. Tapi hanya itu; hanya begitu saja.

Dari situ, kebanyakan mereka menyembunyikan ilmu pemberian Allahﷻ itu. Disimpan dan dirahasiakan sebagai ilmu andalan ilmu kebanggaan, wasiat khusus hanya bagi keluarga atau murid-murid terdekat-tersayang saja. Sedikit saja yang disampaikan ke umat. Akhirnya ilmu yang disebarkan murid pun hanya serupa ampas yang sudah bercampur dengan ilmu antah-berantah, sisanya berkarat bersama jasadnya sampai wafat. Umat yang banyak, tetap dalam keawaman. Gagal istiqamah dalam sifat tablig. Predikat hasil ujian: Lulus dengan predikat mengecewakan.

Dari situ, tidak sedikit yang memang menyebarkan ilmunya pada murid dan umat, tetapi justru tujuan jadi tidak lurus lagi ke Allahﷻ, malah belok ke ilmu untuk ini-itu, kehebatan begini-begitu, karamah-karamah. Gagal istiqamah “Ilahi Anta maqsudi”. Hasil ujian: Lulus dengan predikat berpotensi membelokkan umat dari tujuan.

Ada juga orang yang ketika diperjumpakan,  justru Nabi Khidr a.s.-nya yang terheran-heran. Orang itu bersikap biasa-biasa saja. Kesan “Wow” bisa bertemu Nabi Khidr a.s. pun tidak tampak dari gerak-gerik orang itu. Orang ini justru banyak diam dan manut saja. Tidak berkata-kata tanpa diminta. Lebih banyak diam. Diam. Diam. Dari sikapnya itu seolah terkatakan, “Bukan saya tidak takzim pada engkau, wahai pribadi mulia Nabi Allah.... Bukan saya memandang engkau tidak ada apa-apanya dibandingkan Nabi Muhammad  ...tetapi saya bukan mencari ilmu-ilmu rahasia, bukan ingin karamah, bukan ingin ini-itu, melainkan saya mencari sampai pada Allahﷻ.”

Justru Nabi Khidr a.s. yang kemudian lebih banyak berbicara. Beliau berkata pada orang itu bahwa kedudukan dia di dunia itu sebagai ini-itu dan dalam pandangan Allah wa Rasulullah dan bagi para penduduk langit, dia itu begini-begitu. Orang itu tidak menampik, juga tidak mengiyakan informasi Nabi Khidr a.s. itu. Tentu bukan tidak percaya pada Nabi Khidr a.s. jika ia tetap diam saja berkhidmat. Lebih banyak diam. Diam. Diam.

  (الصمت زين للعالم وسترللجاهل (رواه ابوالشيخ عن المحرز
“Diam itu hiasan bagi orang alim dan selimut bagi orang bodoh.” (H.R. Abusy Syekh dari Al-Mihrazi)

 (الصمت حكم وقليل فاعله (رواه القضاعى عن انس والديلمى
“Diam itu mengandung hikmah yang banyak, tetapi sedikit orang yang melakukannya.” (H.R. Al-Qadhai dari Anas dan Ad-Dailami, dari Ibnu Umar)


Oleh sebab itulah akhirnya Nabi Khidr a.s.,atas izin, kehendak, dan ketetapan Allahﷻ, menjelaskan dan mengijazahkan induk segala ilmu pada orang itu. Ilmu sedikit untuk segala-galanya.

Ibarat kata, orang-orang salih sebelumnya ketika berjumpa Nabi Khidr a.s. itu malah banyak meminta ilmu-ilmu kelas cabang dan ranting, sedangkan orang yang mengutamakan diam berkhidmat ketika berjumpa Nabi Khidr a.s. itu tanpa meminta apa pun justru langsung diberi batang pokok dari pohon ilmu. Yang dari batang itu ia dapat mengetahui segala ranting, cabang, akar, daun, sampai buah dari pohon ilmu itu. Allaahu Akbar.

Dari fenomena ini, ada kemungkinan Nabi Khidr a.s. tidak akan menemui siapa-siapa lagi sampai era Imam Mahdi tiba sebab "tongkat estafet akhirul zaman" sudah diserahkan pada yang berhak dari kalangan umat Muhammadﷺ. Allaahua`lam. Apalagi sejak perjumpaan dengan orang terakhir itu, atas kehendak Allah  taklama kemudian dua tipu daya Dajjal yang utama mulai banyak terungkap. Petunjuk bagi orang-orang yang mau berpikir. Allaahua`lam.

Yang diurai di atas tadi  bukan ilmu grand-grand mufti, bukan ilmu syaikh-syaikh, bukan ilmu kiyai-kiyai, bukan ilmu ustaz-ustaz, bukan ilmu habib-habib, bukan ilmu maulana-maulana, bukan ilmu hazrat-hazrat, bukan ilmu buya-buya, bukan ilmu datuk-datuk, bukan ilmu tuan-tuan guru, bukan ilmu gus-gus, bukan ilmu embah-embah, bukan ilmu eyang-eyang, bukan ilmu ki-ki, bukan ilmu sufi-sufi, bukan ilmu tarikat-tarikat, bukan ilmu dari mereka yang bukan nabi. Percaya, Alhamdulillah. Tidak percaya, Alhamdulillah.



Astagfirullaahal `aziim. Laa ilaaha illaa Anta. Subhaanaka. Inni kuntu minaz zaalimiin. Allaahua`lam.

HTML5 Warisan Nabi
Ilmu Zikir dan Salat yang Tidak Dimiliki Ulama
Adam Troy Effendy
By Pusaka Madinah
Published: 2016-07-12T05:09:00+07:00
Ilmu Zikir dan Salat yang Tidak Dimiliki Ulama
5 411 reviews
"Sampaikan dariku walau satu ayat." [H.R. Bukhari]
Tampilan terbaik laman ini pada peramban Chrome
Tags: , ,
admin Pusaka Madinah

Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki bagi kalangan khawwas al khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab an-Nazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.

 

Ikuti kabar terbaru via e-mail

Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Insan:29)

Copyright © Pusaka Madinah| Peta Situs | Designed by Templateism